Page 1584 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1584

BURUH BERPELUANG BAWA SURAT MENAKER SOAL UPAH KE PTUN

              Organisasi  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (OPSI)  memprediksikan  para  buruh  akan  melakukan
              penolakan dan membawa Surat Edaran (SE) Nomor M/11/HK.04/2020 tentang Penetapan Upah
              Minimum Tahun 2021 pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ke Pengadilan
              Tata Usaha Negara ( PTUN ).

              Sekjen OPSI Timboel Siregar menilai kenaikan upah minimum selalu menjadi sumber perselisihan
              antara pemerintah, pengusaha, dan buruh. Dia mengungkap perkara seperti ini sudah langganan
              berujung ke PTUN dan tahun ini diramal akan kembali terjadi.

              "Kenaikan  upah  minimum  tiap  tahun  biasanya  telah  menjadi  sumber  perselisihan  antara
              pemerintah,  Apindo  (pengusaha),  dan  SP/SB  (serikat  pekerja)  yang  biasanya  berujung  di
              Pengadilan  Tata  Usaha  Negara  (TUN)  dan  tahun  ini  sepertinya  akan  terulang  lagi,"  katanya
              seperti dikutip dari rilis, Selasa (27/10).

              Lebih lanjut, ia menilai, baik Menteri Ketenagakerjaan lewat SE tidak menaikkan upah minimum,
              maupun pekerja yang menuntut kenaikan upah 2021 sebesar 8 persen sama-sama tak tepat.

              Dia  ingin  kedua  pihak  mencari  solusi  yang  bijak  yaitu  kenaikan  upah  minimum  yang
              mempertimbangkan kesejahteraan pekerja dan kelangsungan usaha.

              Menurut  perhitungannya,  sejak  Januari  hingga  Agustus  2020  tingkat  inflasi  mencapai  0,93
              persen, sementara tingkat inflasi dari tahun ke tahun atau year on year (yoy) dengan acuan
              Agustus adalah sebesar 1,32 persen.

              Dengan data ini, ia bilang, seharusnya para gubernur dapat mempertimbangkan untuk tetap
              menaikkan upah minimum pada 2021. Walaupun hanya berkisar inflasi tahunan yaitu sekitar 1,5
              persen  sampai  2  persen.  Juga,  mempertimbangkan  kondisi  September,  Oktober  sampai
              Desember 2020.

              Karena, ia menyebut dengan adanya kenaikan upah minimum yang mempertimbangkan inflasi
              tahunan, maka daya beli pekerja tidak tergerus oleh inflasi sehingga pekerja dan keluarga bisa
              mempertahankan tingkat konsumsi.

              "Dengan tingkat konsumsi yang tidak turun tentunya akan mendukung tingkat konsumsi agregat
              sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi kita. Konsumsi agregat mendukung 55-60 persen
              terhadap pertumbuhan ekonomi," terang Timboel.
              Dia mengatakan kenaikan tersebut walau minim akan memiliki dampak domino terhadap geliat
              ekonomi yaitu pergerakan barang dan jasa yang pada akhirnya mendukung peningkatan pajak
              negara.

              Lebih  jauh,  kenaikan  upah  juga  dinilainya  dapat  menghindari  BPJS  Kesehatan  dari  defisit
              pembiayaan JKN, mengingat nilai total iuran dari pekerja penerima upah (pekerja formal) swasta
              selama ini menjadi penerimaan kedua tertinggi setelah iuran PBI.

              "Semoga kenaikan upah minimum 2021 yang akan ditetapkan tanggal 1 November 2020 ini di
              kisaran 1,5 persen hingga 2 persen bisa diterima semua pihak, sehingga kesejahteraan pekerja
              terjaga dan kelangsungan usaha terjamin," tutupnya.

              Untuk diketahui, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah menyatakan keputusan upah
              minimum provinsi 2021 tak naik. Keputusan diambil dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi
              selama masa pandemi virus corona.

              Selain  itu,  Ida  juga  mempertimbangkan  kemampuan  perusahaan  dalam  memenuhi  hak
              pekerja/buruh termasuk dalam membayar upah.
                                                          1583
   1579   1580   1581   1582   1583   1584   1585   1586   1587   1588   1589