Page 1715 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1715

Mereka menolak keputusan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2021 yang tak naik karena kondisi
              ekonomi selama masa pandemi virus corona.
              Ketua DPD Federasi Serikat Pekerja Logam Elektronik Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia
              (FSP LEM SPSI) Jawa Barat, Muhamad Sidarta mengatakan, kondisi pandemi covid-19 adalah
              upaya menggiring buruh agar memaklumi UMP 2021 yang tak naik.



              BURUH DEMO DI GEDUNG SATE BANDUNG, TUNTUT KENAIKAN UMP 2021
              Elemen buruh dari berbagai serikat pekerja menggelar demonstrasi di depan Gedung Sate, Kota
              Bandung, Jawa Barat, Selasa (27/10).

              Mereka menolak keputusan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2021 yang tak naik karena kondisi
              ekonomi selama masa pandemi virus corona.

              Ketua DPD Federasi Serikat Pekerja Logam Elektronik Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia
              (FSP LEM SPSI) Jawa Barat, Muhamad Sidarta mengatakan, kondisi pandemi covid-19 adalah
              upaya menggiring buruh agar memaklumi UMP 2021 yang tak naik.

              "Pemerintah sudah sejak awal menggiring supaya rakyat, khususnya kaum buruh memaklumi
              upah buruh 2021 tidak naik, disamakan dengan upah 2020," ujar Sidarta.
              Sidarta menilai, persoalan serupa pernah terjadi saat krisis 1998. Namun saat itu, kata dia, upah
              tetap naik.

              Di sisi lain, ia meyakini kondisi ekonomi belum tentu membaik tahun depan. Hal itu berkaca dari
              pengalaman  sebelumnya  bahwa  ekonomi  Indonesia  masih  bisa  terselamatkan  tanpa  harus
              menunda kenaikan upah minimum bagi buruh.

              "Pemerintah tetap menaikkan upah buruh sebagai jaring pengaman yaitu upah minimum baik
              UMP, UMK dan UMSK sebagai jaring pengamanan," tegasnya.

              Menurutnya, surat edaran tentang UMP 2021 yang tak naik akan berpengaruh pada daya beli
              masyarakat. Terutama pertumbuhan ekonomi secara nasional.
              "Kami menolak isi surat edaran tersebut, itu pasti akan memperlemah daya beli kaum buruh dan
              rakyat. Karena upah buruh dibelanjakan untuk pedagang, ojek, mengontrak rumah dibelanjakan
              lagi. Kalau daya beli (buruh) melemah tentu masyarakat lain juga melemah," cetus Sidarta.

              Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang Dan Kulit
              (FSP TSK)  SPSI  Roy  Jinto  mengungkapkan,  ada  lima  tuntutan  yang  disampaikan  dalam  aksi
              demonstrasi.

              Selain menolak UMP 2021 yang tak naik, massa buruh juga mendesak agar Omnibus Law UU
              Cipta Kerja dicabut.

              "UU Cipta Kerja itu cacat formal dari jumlah halamannya, artinya menandakan bahwa terjadi
              kekacauan  dan  DPR  tidak  siap  melakukan  pengesahan.  Kami  melakukan  mosi  tidak  percaya
              kepada DPR RI khususnya fraksi yang menyetujui Omnibus Law ini," ujarnya.

              Hingga berita ini diturunkan, ribuan buruh masih menggelar unjuk rasa. Polisi tampak berjaga-
              jaga di dalam halaman Gedung Sate.

              Pantauan CNNIndonesia.com, para buruh tampak menyemut di kawasan Diponegoro. Sementara
              arus lalu lintas masih terpantau lancar.

                                                          1714
   1710   1711   1712   1713   1714   1715   1716   1717   1718   1719   1720