Page 1866 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1866
Ringkasan
Industri pariwisata menjadi sektor yang paling terkena dampak pandemi virus corona (Covid-
19). Oleh karenanya peran pemerintah sangat diperlukan oleh industri pariwisata dalam
memulihkan kondisi ketenagakerjaan sektor tersebut.
Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran
mengatakan, periode Juni-Juli 2020 terdapat sebanyak 40 persen tenaga kerja hotel dan restoran
yang terkena unpaid leave akibat terdampak pandemi Covid-19.
TERHEMPAS PANDEMI, 40% PEKERJA HOTEL DAN RESTORAN TERKENA UNPAID
LEAVE
Industri pariwisata menjadi sektor yang paling terkena dampak pandemi virus corona (Covid-
19). Oleh karenanya peran pemerintah sangat diperlukan oleh industri pariwisata dalam
memulihkan kondisi ketenagakerjaan sektor tersebut.
Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran
mengatakan, periode Juni-Juli 2020 terdapat sebanyak 40 persen tenaga kerja hotel dan restoran
yang terkena unpaid leave akibat terdampak pandemi Covid-19.
"Dengan asumsi, jumlah tenaga kerja hotel dan restoran yang terkena dampak serupa lebih
besar saat ini. Namun, kami belum mengumpulkan data terbaru terkait dengan hal tersebut.
Kalau mau cepat pulih penyerapan tenaga kerjanya, pemanfaatan anggaran dari kegiatan
pemerintah harus lebih optimal," kata Maulana seperti dikutip, Senin (26/10/2020).
Dia melanjutkan, tingkat okupansi hotel turun drastis dari single digit menjadi nol pada Mei 2020.
Tak jauh berbeda, restoran harus terpuruk setelah upaya konversi bisnis dari luring menjadi
daring tidak serta merta memulihkan kondisi.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik melaporkan tingkat penghunian kamar hotel berbintang
pada Agustus 2020 turun 22,37 persen secara tahunan (yoy) dari 53,80 persen menjadi 29,80
persen.
Adapun, pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) beberapa bulan lalu gagal
mendongkrak pertumbuhan transaksi sektor hotel dan restoran seiring dengan penurunan harga
sewa per kamar 20-30 persen dibandingkan dengan kondisi normal.
Dengan demikian, kata Maulana, daya tahan pelaku usaha sektor perhotelan dan restoran Tanah
Air tidak sekuat pada periode Mei-Juni lalu. Dengan permintaan yang masih lemah, penyerapan
tenaga kerja oleh sektor hotel dan restoran pun tidak dapat maksimal.
"Contoh, sektor perhotelan hidup tidak hanya dari penjualan kamar. Karyawan hotel bukan hanya
bekerja untuk menyelesaikan urusan kamar, tapi juga fasilitas. Bisa fasilitas di ballroom, gym,
dan macam-macam. Restoran juga begitu. Selama ada WFH akan sulit karena mengandalkan
pergerakan orang. Dengan kondisi seperti ini, tidak semua restoran bisa bergerak untuk
menjalankan bisnisnya," lanjut Maulana.
Di tengah kondisi kahar, kata Maulana, pemerintah harus menjadi pemicu untuk menciptakan
permintaan, tidak hanya hingga akhir tahun, tapi setidaknya hingga kuartal I/2020 yang
merupakan low season bagi pengusaha hotel dan restoran.
Maulana menjelaskan, Januari hingga Maret 2020 merupakan periode low season sehingga efek
dari anggaran yang dialokasikan khusus untuk baru bisa dirasakan setelah Maret.
1865

