Page 1871 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1871

Dikutip  dari  surat  edaran  tersebut,  Menaker  menjelaskan  bahwa  pandemi  COVID-19  telah
              berdampak pada kondisi perekonomian dan kemampuan perusahaan dalam rangka memenuhi
              hal pekerja/buruh termasuk dalam hal membayar upah.

              Ida  Beberkan  Nasib  Kenaikan  Upah  Minimum  Provinsi  2021  Dalam  rangka  memberikan
              perlindungan dan kelangsungan usaha, perlu dilakukan penyesuaian terhadap penetapan upah
              minimum pada situasi pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19.

              Atas dasar itu, Menaker meminta kepada gubernur di seluruh Indonesia untuk menyesuaikan
              penetapan Upah Minimun Tahun 2021 sama dengan Upah Minimum Tahun 2020. Dengan kata
              lain, tidak ada kenaikan Upah Minimum.

              "Melakukan penyesuaian penetapan nilai Upah Minimum Tahun 2021 sama dengan nilai Upah
              Minimum tahun 2020," tulis Menaker dalam surat edaran.

              Gubernur juga diminta melaskanakan penetapan Upah Minimun Provinsi sesuai peraturan yang
              berlaku,  serta  menetapkan  dan  mengumumkan  Upah  Minimum  Provinsi  Tahun  2021  pada
              tanggal 31 Oktober 2020.

              Sebelumnya,  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  meminta  pemerintah  tetap
              menaikkan upah minimum untuk tahun 2021 mendatang. KSPI menilai setidaknya, ada kenaikan
              upah minimum sebesar 8 persen untuk 2021.

              "Serikat buruh KSPI berpendapat, mengusulkan dan bersikap kenaikan upah minimum UMK,
              UMSK, UMP, UMSP harus tetap ada. Berapa nilai yang diminta oleh KSPI 8 persen kenaikan UMK
              UMSK  UMP,  UMSP.  Dari  mana  cara  melihatnya,  melihat  angka  3  tahun  berturut-turut,"  kata
              Presiden KSPI, Said Iqbal, dalam konferensi pers virtual, Rabu, 21 Oktober 2020.

              Alasannya,  kata  Iqbal,  melihat  pada  tahun  1998  dahulu  Indonesia  juga  mengalami  resesi
              ekonomi yang lebih besar dari saat ini, yakni mencapai minus 17,6 persen. Ketua serikat buruh
              pada waktu itu, bersama dengan asosiasi pengusaha dan Kementerian Tenaga Kerja sepakat
              menyatakan kenaikan 0 persen atau tidak ada kenaikan upah.





































                                                          1870
   1866   1867   1868   1869   1870   1871   1872   1873   1874   1875   1876