Page 10 - E MODUL PERPAJAKAN
P. 10

tidak  terkendali.Contoh  :  Ketika  terjadi  kenaikan  harga  yang  tidak  wajar  pada
                              komoditas property yang mengakibatkan inflasi pada semua komoditas, pemerintah
                              dapat mengenakan pajak atas transaksi komoditas property tersebut,sehingga harga
                              properti  kembali  wajar  yang  mengakibatkan  harga  komoditas  lainnya  menjadi
                              wajar kembali.
                          •  Alat Redistribusi Pendapatan
                              Pajak dikenakan berdasarkan besarnya penghasilan masing-masing orang (dalam
                              hal  pengenaan  pajak  progresif)  yang  dipergunakan  untuk  membiayai  semua
                              kepentingan umum dan hasilnya dapat dinikmati oleh setiap orang tanpa  melihat
                              besarnya penghasilan.


               3. Manfaat Pajak


                   Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan memiliki dua peran dalam masa pandemi covid-
               19.
                    1.  Dukungan pajak untuk penanganan dan pencegahan pandemi
                    2.  Dukungan pajak untuk dunia usaha dengan memberikan berbagai relaksasi pajak. Direktur
                       Jenderal  Pajak  Suryo  Utomo  dalam  konferensi  virtual,  Senin  (27/4)  menuturkan,  dalam
                       konteks pajak mendukung penanganan dan pencegahan covid-19, telah diterbitkan Peraturan
                       Menteri Keuangan (PMK) nomor 28/2020 tentang Pemberian Fasilitas Pajak Terhadap Barang
                       dan Jasa Yang Diperlukan Dalam Rangka Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019
                       dan PMK 34/2020 tentang Pemberian Fasilitas Kepabeanan Dan Atau Cukai Serta Perpajakan
                       Atas  Impor  Barang  Untuk  Keperluan  PenangananPandemiCoronaVirusDisease2019.

                       Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/308006-peran-pajak-di-tengah-pandemi-
                       covid-19

               “Khusus PMK 28/2020 ini memberikan pembebasan terhadap fasilitas barang dan jasa yang diperlukan
               dalam rangka penanganan pandemi ocovid-19. Barang dan jasa yang dibeli oleh institusi  contohnya
               BNPB  yang  diperlukan  untuk  penanganan  covid  adalah  barang  kena  pajak  dan  jasa  kena  pajak,
               sehingga setiap pembelian dan penyerahannya terhutang PPN. Dengan PMK 28/2020 ini diberikan
               fasiitas, bahwa atas PPN terutang tidak dipungut, atas PPN terutang ditanggung pemerintah atau tidak
               dikenakan. Demikian juga dengan PPh yang atas penjualan dan pembayaran wajib dipotong PPh pasal
               21, kalau pribadi, wajib dipotong PPh22 kalau sebuah institusi, atau pun dipotong PPh 23 instansi atau
               RS rujukan membayar atas perolehan jasa sewa. Dengan PMK ini, atas beberapa jenis pajak tadi, tidak
               dikenakan pemotongan PPh,” . Barang-barang yang akan mendapatkan fasilitas dari pemerintah itu
               ialah obat-obatan, vaksin, alat laboraturium, alat pendeteksi, alat pelindung diri dan peralatan lain yang
               dibutuhkan  serta  relevan  untuk  menangani  pandemi  covid-19.  Tentunya,  fasilitas  pajak  tersebut
               diperuntukkan bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau instansi pemerintah lain
               yang menangani covid-19, rumah sakit yang menangani atau rumah sakit rujukan pasien covid-19 dan
               instansi lain yang ditunjuk oleh BNPB atau rumah sakit rujukan untuk menangani covid-19. Dalam
               PMK itu pula, pemerintah memberikan relaksasi pajak kepada jasa seperti jasa konstruksi, jasa sewa,
               jasa konsultasi, dan jasa lainnya yang dianggap dibutuhkan dalam penanganan pandemi covid-19.
               Misal,  seperti  BNPB  yang  membuat  rumah  sakit  darurat  dan  menggunakan  jasa  konstruksi  dan
   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15