Page 304 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 304
290 Gubernur Pertama di Indonesia
Pada 1909, Latuharhary kecil pindah ke Ambon untuk
bersekolah di Europesche Lagere School (ELS), setingkat Sekolah
Dasar pada masa sekarang. Di Ambon, Latuharhary tinggal bersama
1
keluarga guru Leihitu Tisera dan dianggap sebagai anak piara dalam
keluarga tersebut. Sebagai anak piara, Latuharhary kecil dididik
melakukan berbagai macam pekerjaan rumah tangga. Pengalaman
itu membantu pembentukan kepribadian Latuharhary kecil menjadi
manusia yang tangguh di kemudian hari.
Latuharhary dikenal sebagai murid yang cerdas. Menamatkan
ELS dengan hasil yang memuaskan pada 1917, ia melanjutkan belajar
2
di HBS (Hogere Burger School) dan tinggal di rumah keluarga Piet
Rugebrecht. Kerajinan, ketekunan, kepandaian dan kecerdasan
membawa Latuharhary berhasil dengan baik dalam menempuh
pelajaran dan naik kelas setiap tahun dengan menguasai bahasa
3
Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis. Ia juga memiliki minat dan
bakat pada bidang yang lain, seperti musik, sepak bola, dan membaca
buku.
Pada 25 Mei 1923, Latuharhary lulus dari HBS yang
ditempuhnya selama lima tahun dengan hasil yang memuaskan.
4
Kemudian, ia melanjutkan studi ke Fakultas Hukum Universitas
Leiden di Negeri Belanda. Pada masa itu, calon mahasiswa Fakultas
Hukum harus mengikuti ujian tambahan berupa bahasa klasik
Yunani dan Latin agar bisa mempelajari hukum Romawi. Bagi
Latuharhary yang tampak berbakat mempelajari bahasa asing tidak
mengalami kesulitan yang berarti dalam menempuh ujian tambahan
tersebut. Maka dimulailah babak baru bagi Latuharhary sebagai
mahasiswa hukum di Universitas Leiden dengan beasiswa dari
5
Ambonsch Studiefonds.
Sebelum Latuharhary berangkat ke Negeri Belanda, telah ada
sejumlah pemuda Indonesia yang sedang belajar di berbagai
universitas di sana, seperti Ahmad Subardjo, A. A. Maramis, Nasir
Datuk Pamuntjak, Sutomo, J. B. Sitanala, Sukiman, Mohammad Hatta,
Iwa Kusuma Sumantri, dan lain-lain. Dalam masa studinya di Negeri
Belanda, para pemuda tersebut menyadari bahwa kebebasan yang
mereka rasakan di negeri orang sangat berbeda dengan yang mereka

