Page 305 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 305
Johannes Latuharhary 291
rasakan di Tanah Air sendiri. Perasaan itu akhirnya membentuk dan
menyatukan mereka dalam sebuah perkumpulan yang kemudian
menumbuhkan kesadaran nasional. Perkumpulan ini kelak dikenal
sebagai PI atau Perhimpunan Indonesia.
Awalnya, Latuharhary tidak banyak bergaul dengan
mahasiswa yang bergabung dalam PI. Menurut Mr. Soenario,
mahasiswa Fakultas Hukum kala itu, “. . . ia [Latuharhary] hidup
menyendiri. Pada hari lebaran biasanya orang-orang Indonesia
berkumpul. Tetapi saya tidak pernah melihat Latuharhary di antara
6
kita. Pada waktu itu dia tidak menjadi anggota PI.” Akan tetapi,
pergaulannya dengan kawan-kawan satu fakultasnya seperti Ali
Sastroamidjojo, Subardjo, Abdul Syukur, Budiardjo, Iwa
Kusumasumantri, dan Hatta, yang merupakan eksponen PI, sedikit-
banyak mempengaruhi dan memperkuat pandangan politik
Latuharhary dalam melihat penjajahan dan kemerdekaan.
Latuharhary berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya
dengan baik. Di bawah bimbingan Profesor Dr. Van Vollenhoven, ia
meraih gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) dengan
spesialisasi hukum adat dari Universitas Leiden pada Juni 1927.
Prestasi itu mengantarkan Latuharhary sebagai putra Maluku
7
pertama yang berhasil meraih gelar sarjana di luar negeri. Pada
tahun yang sama ia kembali ke Indonesia dengan menumpang kapal
barang Jerman Derfflinger karena tidak mempunyai cukup uang
untuk menaiki kapal penumpang.
BERJUANG DI TANAH AIR
Johannes Latuharhary kembali ke Tanah Air dengan membawa
rekomendasi dari Van Vollenhoven, guru besarnya semasa kuliah di
Leiden. Dengan rekomendasi itu, ia diangkat sebagai ambtenaar ter
beschikking (pegawai yang diperbantukan) pada President van de
Raad van Justitie (Ketua Pengadilan Tinggi) di Surabaya sejak 22
Desember 1927. Oleh karena prestasi dan dedikasi yang penuh
tanggung jawab, Latuharhary diangkat sebagai landrechter atau
hakim di Surabaya dan menjadi givier di Raad van Justitie (semacam

