Page 309 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 309
Johannes Latuharhary 295
merapatkan barisan dengan organisasi kebangsaan lainnya seperti
Budi Utomo dan Indonesische Studieclub. Selain itu, sikap keras
pemerintah kolonial yang tidak mengakui organisasi
kemasyarakatan, termasuk Sarekat Ambon, membuat perjuangan
Latuharhary lewat organisasi itu menjadi semakin sulit. Hal itu
kemudian menyadarkan dirinya bahwa cara nonkooperatif saat itu
akan menghambat pencapaian tujuan perjuangan. Sebaliknya,
dengan jalan kooperatif perjuangan untuk lepas dari penjajahan dan
memerdekakan diri akan tercapai. Atas dasar itulah, pada 1932
Sarekat Ambon bergabung dengan PPPKI. Dalam organisasi yang
16
dipimpin Dr. Sutomo itu, Latuharhary ditunjuk sebagai sekretaris.
Waktu terus berjalan, 8 Maret 1942 menjadi titik akhir
kekuasaan kolonial Belanda dan awal pendudukan militer Jepang di
Indonesia. Terjadi peralihan kekuasaan yang menimbulkan
kekacauan di sana-sini. Tentara Jepang yang pada awal
kedatangannya mempropagandakan diri sebagai “cahaya, pelindung,
dan pemimpin Asia,” ternyata menjalankan kekuasaan yang fasistis.
Partai politik dan organisasi pergerakan serta media massa yang
terbit pada masa sebelumnya dibubarkan. Rakyat dipaksa tunduk
menghormat kepada kaisar dan bendera Jepang. Bagi yang tidak
tunduk pada kemauan pemerintah pendudukan, polisi dan tentara
Jepang tidak segan-segan melakukan penyiksaan. Terjadi
penangkapan terhadap orang-orang Belanda, Indo, Ambon, Manado,
dan Timor.
Mr. Johannes Latuharhary termasuk orang yang mengalami
penangkapan tentara Jepang, dan ditahan selama empat bulan. Dua
bulan setelah dibebaskan dari tahanan, Latuharhary pindah ke
Jakarta, aktif di bidang sosial, mengurus ibu-ibu dan anak-anak
Maluku dan Timor yang ditinggalkan suaminya karena ditawan atau
melarikan diri ke Australia. Pemerintah pendudukan Jepang
kemudian menugasi Latuharhary sebagai kepala Kantor Urusan
Penduduk Maluku yang berada di seluruh Jawa. Untuk melaksanakan
tugasnya itu, ia ditempatkan pada bagian Urusan Dalam Negeri
17
(naimubu) di bawah Gunseikanbu.

