Page 313 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 313

Johannes Latuharhary        299



                      Pernyataan  dalam surat kabar itu berdampak besar terhadap
               pemuda-pemuda Maluku. Serentak di setiap daerah  di Maluku,  para
               pemuda berinisiatif mengadakan berbagai pertemuan dan membentuk
               Angkatan  Pemuda  Indonesia  Ambon  dengan  tujuan  membela
               kemerdekaan dan keamanan  Indonesia secara damai dalam
               persaudaraan.
                      Situasi perpolitikan  nasional yang belum stabil  setelah
               kemerdekaan turut mewarnai perkembangan pemerintahan baik di
               tingkat pusat maupun  daerah.  Wilayah Indonesia bagian  timur,
               khususnya Maluku,  mengalami  pergolakan politik yang tidak biasa
               dibandingkan dengan  daerah  lain  di wilayah Jawa dan Sumatera.
               Selain menjadi daerah yang pertama kali didarati Sekutu, Indonesia
               bagian timur juga mengalami pergolakan lokal yang lebih masif
               dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya.
                      Pada  Februari 1946,  tentara Australia memasuki kawasan
               Indonesia bagian  timur untuk melucuti tentara  Jepang dan
               membebaskan  tawanan perang.  Kedatangan tentara Australia itu
               disusupi oleh satuan-satuan NICA (Netherlands Indies Civil
               Administration) yang telah disiapkan  oleh Van Mook   untuk
                                                                       21
               menjalankan pemerintahan sipil  di  daerah-daerah yang diduduki
               tentara Australia.  Dengan demikian tentara Australia yang setengah
               hati memasuki Indonesia  Timur tidak  perlu menangani urusan
                                              22
               administrasi pemerintahan sipil.
                      Situasi itu  membuat  Latuharhary yang ditunjuk untuk
               mengepalai wilayah Maluku di bawah naungan pemerintah Republik
               Indonesia tidak bisa memimpin Maluku secara langsung.  Sebagai
               Gubernur Maluku, Latuharhary putus hubungan dengan provinsi dan
               masyarakat Maluku yang berada di Kepulauan Maluku secara
               langsung.  Situasi  politik  dan  transportasi  yang  sulit  kala  itu
               menyebabkan  Latuharhary  tidak  bisa segera  kembali ke Maluku
               sehingga ia menjalankan kepemimpinannya dari jauh, yakni dari
                      23
               Jakarta.
                      Sementara itu, pendaratan tentara Sekutu dengan membawa
               serta tentara Belanda  dan NICA yang di dalamnya terdapat unsur
   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317   318