Page 317 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 317

Johannes Latuharhary        303



                      Sementara itu, raja-raja Ambon Maluku terkesan dengan ide
               pembentukan persemakmuran Maluku. Persemakmuran yang
               dimaksud mencakup wilayah Maluku Utara, Irian Barat, dan Maluku
               Selatan. Ide pembentukan Persemakmuran Maluku ini didukung oleh
               kehadiran tiga pemimpin Perkumpulan Kebangsaan  Maluku dari
               Jakarta pada pertengahan April 1946. Mereka berkeinginan Maluku
               menjadi bagian dari Indonesia daripada  menjadi bagian kerajaan
               Belanda.
                      Dalam pada itu, Van Mook mulai mendirikan negara-negara
               bagian di berbagai wilayah di Indonesia sebagai bagian dari upaya
               pembentukan negara federal.  Digelar Konferensi Malino  yang
               dilanjutkan  dengan Konferensi Denpasar yang memutuskan
               pembentukan  Negara  Indonesia Timur  dan Negara  Kalimantan.
               Negara Indonesia Timur  (NIT)  resmi berdiri  sejak  Konferensi
               Denpasar  (1947),  menggunakan sistem parlementer  dengan
               Sukawati sebagai Presiden, Tadjudin Noor sebagai Ketua
               Parlementer Sementara dan Nadjamudin Daeng Malewa sebagai
               Perdana Menterinya.
                                   28
                      Akan  halnya  Sultan  Ternate  tidak  tertarik  dengan  ide
               persemakmuran       Maluku.     Sultan    beranggapan      bahwa
               persemakmuran  hanya akan memperlihatkan dominasi  orang
               Ambon ataupun Indonesia lainnya. Ia justru menginginkan Maluku
               menjadi bagian dari NIT. Di sisi lain, sebagian orang Ambon khawatir
               apabila  Maluku  menjadi  bagian dari NIT atau  Republik  Indonesia
               maka akan didominasi oleh kelompok lain yang bukan Maluku. Ide
               persemakmuran ini tidak mendapat dukungan dari kaum nasionalis.
                      Dalam sidang yang diadakan NIT pada April 1947, Presiden
               NIT    Sukawati   mengundang      tokoh-tokoh   Republik    untuk
               menyaksikan  persidangan itu. Latuharhary ikut dalam rombongan
               undangan  tersebut namun tidak diizinkan masuk  dan  mengikuti
               persidangan  karena, menurut NIT, ia adalah gubernur Maluku di
               bawah naungan Republik yang tidak boleh mencampuri daerah
               Maluku. Keikutsertaan Latuharhary  pada waktu itu sebenarnya
               bukan sebagai gubernur Maluku melainkan tokoh yang berasal dari
               Maluku.
                       29
   312   313   314   315   316   317   318   319   320   321   322