Page 316 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 316

302        Gubernur Pertama di Indonesia



                   Pembukaan Kantor Pembantu  Gubernur  tersebut membuat
            masyarakat Maluku di Jawa merasa diperhatikan dan dilindungi oleh
            pemerintah daerahnya sehingga mempermudah koordinasi dan
            meningkatkan partisipasi masyarakat Maluku untuk tetap berada
            dan berjuang bersama-sama guna mempertahankan kemerdekaan
            Indonesia.  Sementara itu, pada Januari 1946, pusat pemerintahan
            nasional terpaksa dipindahkan ke Yogyakarta. Akibatnya, Kantor
            Pusat  Gubernur  Maluku  itu  pindah  ke  Yogyakarta,  berkantor  di
            Margokridongo. Di Jakarta, Kantor Pembantu Gubernur Maluku tetap
            dibuka, dipimpin oleh Wim Tutopoly.
                   Pada masa awal  kepemimpinannya,  Gubernur  Latuharhary
            menghadapi masalah seputar prasangka yang telanjur berkembang
            dalam masyarakat umum yang meragukan loyalitas orang Ambon
            akibat pengalaman masa kolonial. Namun, Latuharhary berusaha
            meyakinkan bahwa masyarakat Ambon secara keseluruhan tetap
            berada    di  belakang    Republik   dalam   rangka    perjuangan
            mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

            DI TENGAH PUSARAN TIGA KEKUATAN


            Dalam  upaya  “mengembalikan”  kekuasaan  di  Indonesia,  Belanda
            yang datang memboceng Sekutu  menggunakan politik memecah
            belah.  Di Maluku, langkah awal Belanda adalah mendirikan dewan
            penasihat yang beranggotakan delapan orang mewakili dua agama
            yaitu Nasrani dan Islam. Pembentukan dewan penasihat itu
            berhubungan dengan janji Ratu Belanda  untuk memberi otonomi
            bagi  Indonesia  sama  seperti  yang  sudah  diberikan  pada  daerah
            jajahan Belanda yang lain. Untuk mewujudkan janji tersebut, dewan
            penasihat  mengingatkan  pemerintah  tidak  menunda  reorganisasi
                                                                   27
            internal di Ambon hingga situasi di Jawa memungkinkan.  Lantaran
            itu, masyarakat Maluku terpecah; ada kelompok yang menginginkan
            Ambon berstatus  seperti Curaçao  dan  Suriname; kelompok lain
            menginginkan Ambon menjadi bagian dari Indonesia karena secara
            ekonomis masih tergantung dengan Indonesia.
   311   312   313   314   315   316   317   318   319   320   321