Page 33 - Majalah POM Edisi IX
P. 33
Jendela
amuan tradisional yang jamu Nusantara juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi. "Ditambah lagi,
beragam ini tersebar di berba- aspek positif tren back to nature pada kondisi pandemi COVID-19 telah menyebab-
gai daerah, diantaranya berasal kan lonjakan permintaan masyarakat terhadap jamu dan sangat berpotensi menjadi
Rdari Indonesia bagian Barat, komoditas andalan ekspor," lanjut Reri Indriani.
khususnya di Pulau Jawa, terdapat Melihat fakta tersebut, Badan POM mendokumentasikan ramuan etnomedisin se-
berbagai jenis jamu yang berkhasiat bagai data bukti keamanan jamu Nusantara secara empiris. Terbatasnya dokumentasi
untuk kesehatan, yang dikonsumsi anak pengobatan empiris Indonesia selama ini dianggap sebagai kendala dalam pembuk-
bayi hingga dewasa. Sedangkan di tian jamu secara empiris. Karenanya, Badan POM juga menginisiasi pengembangan
Sumatera, banyak diproduksi minyak produk dan penelusuran data penggunaan empiris melalui rangkaian kegiatan Sarase-
gosok dari tanaman kearifan lokal. han Jamu Nusantara: Napak Tilas Jejak Empiris Obat Tradisional Berbahan Alam
Tak hanya itu, di Indonesia bagian Indonesia. Adapun kegiatan webinar "Mengenal Jamu Nusantara: Eksplorasi Obat
Tengah, di Bali tepatnya terdapat jamu Tradisional Berbahan Alam Indonesia” merupakan pembuka dari rangkaian kegiatan
lokal yang juga digemari turis asing, tersebut. Dengan kegiatan ini diharapkan, masyarakat semakin mengenal dengan
seperti minyak aroma terapi, minyak baik keragaman jamu Nusantara. "Semoga webinar ini memberikan langkah-langkah
balur, lulur tradisional, boreh, minuman konkret untuk dapat melestarikan, memajukan, dan mengembangkan jamu sebagai
loloh, dan sebagainya. Sedangkan di warisan budaya dan penggerak perekonomian Bangsa Indonesia," tutup Reri.n
kalimantan, masyarakat Dayak terkenal
akan ramuan tanaman khas yang hanya
tumbuh di daerahnya.
Di Indonesia bagian Timur juga
terdapat beragam jamu yang merupakan
hasil pemanfaatan bahan alam setempat,
seperti rumput laut di Mataram, pen-
golahan minyak kayu putih di Maluku,
pemanfaatan tanaman asli Papua seperti
buah merah, sarang semut, dan kayu
akway. Dan tak kalah, olahan minyak
kelapa menjadi Virgin Coconut Oil atau
minyak gosok herbal menjadi ramuan
khas Sulawesi.
Untuk terus mendukung pengem-
bangan Jamu yang berasal dari ramuan
kearifan lokal dan warisan budaya
bangsa untuk dapat bersaing menjadi
produk UMKM Obat Tradisional Indo-
nesia, Badan POM menggelar Webinar
"Menge nal Jamu Nusantara: Eksplorasi
Jamu dikenal sebagai obat tradisional khas Indonesia, yang khasiatnya dipercaya secara turun- Obat Tradisional Berbahan Alam Indo- Reri Indriani, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan
temurun. Sebagian besar masyarakat Indonesia familiar dengan jamu sebatas beras kencur, kunyit nesia”, (8/9/2021). Kosmetik BPOM, memberi sambutan dalam acara Mengenal Jamu Nusantara
Dalam acara yang diikuti ribuan pe-
asam, dan meniran. Padahal, ramuan tradisional khas Indonesia sangatlah luar biasa beragam. serta dari beragam latar belakang, mulai
Berdasarkan data Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) pada tahun 2012, 2015, dan 2017 dari akademisi, pelaku usaha, pemerin-
tah, masyarakat umum, media, hingga
oleh Kementerian Kesehatan diketahui bahwa, telah ditemukan terdapat 32.013 macam ramuan selebriti ini, Deputi Bidang Pengawasan
obat tradisional dan 2.848 spesies tumbuhan yang merupakan bahan obat tradisional. Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan,
dan Kosmetik Badan POM, Reri Indriani
mengatakan, kekayaan tanaman obat
dan ramuan jamu yang tersebar dari
Tren back to nature menjadi peluang Sabang sampai Merauke wajib dijaga
kelestariannya. "Kearifan lokal dalam
rangka pengobatan berdasarkan etnis
ramuan kearifan lokal maju bersaing budaya masyarakat lokal atau etnomedi-
sin, termasuk jamu, merupakan warisan
bangsa Indonesia yang bernilai tinggi,
sehingga perlu dijaga dan dilestarikan,"
(Oleh: Fathan Nur Hamidi) ungkapnya.
Reri menambahkan, selain mening- Bincang santai penuh manfaat dipandu Darius Sinathrya
katkan derajat kesehatan penggunanya,
30 31
Vol.3/No.3/2021 Vol. 3/No. 3/2021