Page 96 - 04 Panggung Seumur Jagung
P. 96

85
                                                                                                    BUKU 4  |  Panggung Seumur Jagung
                                     Gedung Nirom (Nederlandsch Indische Radio Omroep, sekarang RRI)
                                     di Jalan Medan Merdeka Barat 5, saat pendudukan Jepang.





                Pada 7 Maret 1942, Biro Pengawas Siaran     Siaran lainnya, yaitu “Soemping
                Djawa, di bawah pimpinan Tomabechi          Soerang Pati” (gubahan Inoe Kertapati),
                membuka cabang di kota besar, seperti       “Diponegoro” (gubahan Soetomo
                Bandung, Purwokerto, Yogyakarta,            Djauhar Arifin), “Manoesia Oetama”,
                Surakarta, Malang, Surabaya, Semarang,      “Tanah dan Air”, “Djalan Kembali”, dan
                dan Jakarta. Siaran menyajikan topik        lain sebagainnya. Menurut beberapa
                kesusastrtaan dan sandiwara radio.          sumber, sebelum “Pantjaran Sastera”
                Propaganda tersebut tersaji dalam           telah ada program sandiwara radio
                program “Pantjaran Sastera”.                “Pantjawarna” yang bersifat hiburan
                                                            di bawah asuhan Moehammad Saleh
                Pada 31 Oktober 1943, sandiwara radio       Machmoed dan M. Arifin. Lakon yang
                berjudul “Tjitji Kaero” (Ajahkoe Poelang)   disiarkan adalah “Bisikan Soekma nan
                gubahan Kikoetji Kwan menjadi pembuka       Moerni” (1942), “Darah Memanggil”
                siaran perdana program “Pantjaran           karya Achdiat dan Rosidi, serta “Saidja
                Sastera”. Program tersebut dianggap         dan Adinda” gubahan Achdiat (30 Maret
                perkenalan antara bangsa Jepang dan         1943).
                Indonesia dan secara rutin disiarkan.
   91   92   93   94   95   96   97   98   99   100   101