Page 441 - Perdana Menteri RI Final
P. 441

Pada tahun 1940, Paguyuban Pasundan   para  akademisi Indonesia  kedudukan   hidup dan melewati transisi zaman Sukarno ini   merehabilitasi kondisi per-kereta-apian. Fungsi
 mengeluarkan  buku  jubelium,  Djuanda  pimpinan dalam pemerintahan dan   dikarenakan pengaruh Djuanda sebagai salah   kereta api cukup penting dalam perhubungan

 menyumbangkan satu artikel berbahasa Belanda   17  satu pelindung teknokrasi tersebut. Jika ada   darat sebagai sarana utama pengangkutan para
 dalam sebanyak mungkin baginya”.
 berjudul “Suatu Tindakan yang Bijaksana Bahwa   yang mengatakan bahwa Djuanda itu sukses   pemimpin RI dan keluarganya dari Jakarta
 Pemerintah memberikan  Jabatan Pimpinan   Dalam artikel ini terdapat beberapa pendapat   karena dia tidak memiliki posisi ideologis yang   ke Yogyakarta. Kereta Api juga berfungsi
 kepada  para  Akademisi Indonesia.”  Dalam   Djuanda yang tetap dipertahankannya sepanjang   kuat, justeru kekuatan kepercayaan ideologinya   sebagai  sarana  angkut  laskar-laskar  rakyat  ke
 artikel ini, Djuanda menjelaskan bahwa   hayatnya sebagai pejabat negara. Pertama adalah   terhadap ide negara modernis yang teknokratis   medan pertempuran. Tetapi kondisinya amat
 kepercayaan bahwa yang akan membawa rakyat   inilah yang menjadi sumbangsihnya. Dan   mengkhawatirkan karena banyak rel yang telah
 “Oleh karena sekalipun jumlah bangsa   Indonesia keluar dari kemiskinan dan kebodohan   terlihat di sini bahwa sudut pandang ini sudah   dibongkar Jepang dan diangkut ke Birma pada

 Indonesia yang menduduki suatu jabatan   adalah  kaum  intelek  atau  akademisi.  Kedua,   lama digodognya dalam proses pendewasaan   waktu Perang Pasifik. Banyak dari lokomotif
 penting begitu kecil, tetapi haruslah   kemampuan akademisi untuk menciptakan   pandangan politiknya pada masa akhir periode   beserta onderdilnya sudah rusak dan tak dapat
 mereka dianggap sebagai pos-pos terdepan   kondisi yang bagus untuk rakyat itu tidak dapat   kolonial ini.  diperbaiki, sementara itu impor alat-alat tidak
                                                                             18
 dalam usaha memperoleh kedudukan   diharapkan untuk dihadirkan oleh kapitalisme/  dimungkinkan.
 liberalisme lewat masyarakat sipil yang
 politik dan ekonomi yang lebih baik bagi   REVOLUSI DAN PENGANGKATAN
 didominasi oleh perusahaan swasta, melainkan   MENJADI MENTERI   Sebelum ia bisa banyak melakukan perubahan, ia
 bangsa Indonesia yang berada ditengah-
 hanya dapat dilakukan lewat negara. Dan                       diangkat menjadi Menteri Muda Perhubungan
 15
 tengah bangsa lain”.    Di  bawah  pendudukan  Jepang,  Djuanda  tetap
 sehingga, ketiga, adalah tugas negara, dalam hal              dalam Kabinet Sjahrir ke II pada bulan Maret
               bekerja dalam Jawatan Pekerjaan Umum dan
 ini himbauan Djuanda diutarakan kepada negara                 1946,  mendampingi Menteri  Perhubungan
 Ia mengkritik bahwa “susunan masyarakat di sini
               ditugaskan untuk membangun jembatan sungai
 kolonial Hindia Belanda, untuk menempatkan                    Ir. Abdul Karim, teman seangkatannya di
 membatasi daya serap terhadap para akademisi.
               Citarum di Kedunggede. Di luar ini, peran-serta
 sebanyak mungkin intelek Indonesia dalam                      Sekolah Tinggi Teknik Bandung. Pada April
 Ini sangat terasa di dalam lingkungan masyarakat
               Djuanda tampak terbatas. Pasca kemerdekaan
 garda depan pengambilan kebijakan negara di                   1946, ia pindah ke Yogyakarta, sementara
 Indonesia  sendiri…  Kesempatan  untuk
               Djuanda langsung memegang peran penting         Juliana dan keluarga terpaksa ditinggalkan di
 beragam departemen agar mereka mampu untuk
 menduduki suatu jabatan yang bertanggung-
               dalam pemerintahan Republik. Jabatan sebagai
 memberikan bantuan menolong rakyat Indonesia                  Cisurupan karena sulitnya kondisi perumahan
 jawab di dalam perusahaan swasta di kemudian
               Menteri Perhubungan mulai diembannya pada
 untuk  berkembang  dan  keluar  dari  siklus                  di Yogyakarta sebagai akibat dari banyaknya
 hari, sangat terbatas bagi para akademisi
               masa kabinet Sjahrir tahun 1946. Penunjukan
 kemiskinan. Pandangan teknokratis ini melihat                 pengungsi yang telah pindah ke kota itu.
 Indonesia, berlainan sekali dengan koleganya di
               sebagai menteri tersebut bukanlah tanpa alasan
 negara sebagai alat untuk melakukan reorganisasi              Kemampuannya      dalam   manajemen     dan
 16
 lain negara.”  Dan sehingga
               karena kerja Djuanda dalam hal transportasi
 sosial yang ditugaskan kepada orang-orang ahli.               kepemimpinan ini terlihat pada periode ini,
 “Daripada perusahaan swasta asing   Djuanda melihat agensi perubahan ini hanya   maupun perhubungan cukup penting. Pada   yaitu sebagai seorang yang tegas dan berani
 tidak dapat diharapkan bahwa mereka   pada kaum ahli, dan bukan kepada para politisi   awal  Januari, Djuanda dan keluarga terpaksa   tapi sekaligus rasional dan  tidak emosional.
 ataupun pemimpin masyarakat. Di sini terlihat   mengungsi dari rumah mereka di Bandung utara   Pada bulan Oktober 1946, ia diangkat sebagai
 akan memelopori usaha ke arah itu.
 betapa kuatnya tradisi ambtenaar yang dipercayai   ke Tasikmalaya sebagai akibat dari kedatangan   Menteri Perhubungan dalam Kabinet Sjahrir
 Disinilah letak suatu tugas mulia bagi
 oleh Djuanda. Oleh karenanya, kedudukan   NICA.  Di  Tasikmalaya,  Djuanda  menerima   ketiga, bersamaan dengan Maria Ulfah Santoso
 pemerintah untuk menciptakan tenaga-
 Djuanda dalam pemerintah, khususnya di bawah   kabar  bahwa  ia  diangkat  oleh  pemerintah   yang diangkat sebagai Menteri Sosial dan Ir.
 tenaga  pimpinan  bagi  masa  depan
 Demokrasi Terpimpin Sukarno, sangat penting   Republik sebagai Kepala Djawatan Kereta   Gunarso, yang diangkat sebagai Menteri Muda
 berhubungan dengan politik, ekonomi
 karena  membawa sudut pandang konservatif   Api Republik Indonesia  melalui Maklumat   Pengajaran. Posisi Menteri Perhubungannya
 dan sosial. Untuk sementara pemerintah
 pro-ahli guna membatasi dorongan-dorongan   Kementerian Perhubungan No.1/KA tanggal   berlanjut di bawah Kabinet Amir Syafruddin.
 masalah ini harus dicari dengan usaha   populis Sukarno yang anti-ahli. Tak dapat   23 Januari 1946. Pusat Jawatan KA ada di   Pada Januari 1948, Kabinet Amir Syafruddin
 secara sadar untuk memberikan kepada   dipungkiri bahwa teknokrasi Indonesia bisa   Cisurupan, Bandung. Ia ditugaskan untuk   berganti  menjadi Kabinet Mohammad Hatta,
 428  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  429
   436   437   438   439   440   441   442   443   444   445   446