Page 440 - Perdana Menteri RI Final
P. 440
Pada tahun 1940, Paguyuban Pasundan para akademisi Indonesia kedudukan hidup dan melewati transisi zaman Sukarno ini merehabilitasi kondisi per-kereta-apian. Fungsi
mengeluarkan buku jubelium, Djuanda pimpinan dalam pemerintahan dan dikarenakan pengaruh Djuanda sebagai salah kereta api cukup penting dalam perhubungan
menyumbangkan satu artikel berbahasa Belanda 17 satu pelindung teknokrasi tersebut. Jika ada darat sebagai sarana utama pengangkutan para
dalam sebanyak mungkin baginya”.
berjudul “Suatu Tindakan yang Bijaksana Bahwa yang mengatakan bahwa Djuanda itu sukses pemimpin RI dan keluarganya dari Jakarta
Pemerintah memberikan Jabatan Pimpinan Dalam artikel ini terdapat beberapa pendapat karena dia tidak memiliki posisi ideologis yang ke Yogyakarta. Kereta Api juga berfungsi
kepada para Akademisi Indonesia.” Dalam Djuanda yang tetap dipertahankannya sepanjang kuat, justeru kekuatan kepercayaan ideologinya sebagai sarana angkut laskar-laskar rakyat ke
artikel ini, Djuanda menjelaskan bahwa hayatnya sebagai pejabat negara. Pertama adalah terhadap ide negara modernis yang teknokratis medan pertempuran. Tetapi kondisinya amat
kepercayaan bahwa yang akan membawa rakyat inilah yang menjadi sumbangsihnya. Dan mengkhawatirkan karena banyak rel yang telah
“Oleh karena sekalipun jumlah bangsa Indonesia keluar dari kemiskinan dan kebodohan terlihat di sini bahwa sudut pandang ini sudah dibongkar Jepang dan diangkut ke Birma pada
Indonesia yang menduduki suatu jabatan adalah kaum intelek atau akademisi. Kedua, lama digodognya dalam proses pendewasaan waktu Perang Pasifik. Banyak dari lokomotif
penting begitu kecil, tetapi haruslah kemampuan akademisi untuk menciptakan pandangan politiknya pada masa akhir periode beserta onderdilnya sudah rusak dan tak dapat
mereka dianggap sebagai pos-pos terdepan kondisi yang bagus untuk rakyat itu tidak dapat kolonial ini. diperbaiki, sementara itu impor alat-alat tidak
18
dalam usaha memperoleh kedudukan diharapkan untuk dihadirkan oleh kapitalisme/ dimungkinkan.
liberalisme lewat masyarakat sipil yang
politik dan ekonomi yang lebih baik bagi REVOLUSI DAN PENGANGKATAN
didominasi oleh perusahaan swasta, melainkan MENJADI MENTERI Sebelum ia bisa banyak melakukan perubahan, ia
bangsa Indonesia yang berada ditengah-
hanya dapat dilakukan lewat negara. Dan diangkat menjadi Menteri Muda Perhubungan
15
tengah bangsa lain”. Di bawah pendudukan Jepang, Djuanda tetap
sehingga, ketiga, adalah tugas negara, dalam hal dalam Kabinet Sjahrir ke II pada bulan Maret
bekerja dalam Jawatan Pekerjaan Umum dan
ini himbauan Djuanda diutarakan kepada negara 1946, mendampingi Menteri Perhubungan
Ia mengkritik bahwa “susunan masyarakat di sini
ditugaskan untuk membangun jembatan sungai
kolonial Hindia Belanda, untuk menempatkan Ir. Abdul Karim, teman seangkatannya di
membatasi daya serap terhadap para akademisi.
Citarum di Kedunggede. Di luar ini, peran-serta
sebanyak mungkin intelek Indonesia dalam Sekolah Tinggi Teknik Bandung. Pada April
Ini sangat terasa di dalam lingkungan masyarakat
Djuanda tampak terbatas. Pasca kemerdekaan
garda depan pengambilan kebijakan negara di 1946, ia pindah ke Yogyakarta, sementara
Indonesia sendiri… Kesempatan untuk
Djuanda langsung memegang peran penting Juliana dan keluarga terpaksa ditinggalkan di
beragam departemen agar mereka mampu untuk
menduduki suatu jabatan yang bertanggung-
dalam pemerintahan Republik. Jabatan sebagai
memberikan bantuan menolong rakyat Indonesia Cisurupan karena sulitnya kondisi perumahan
jawab di dalam perusahaan swasta di kemudian
Menteri Perhubungan mulai diembannya pada
untuk berkembang dan keluar dari siklus di Yogyakarta sebagai akibat dari banyaknya
hari, sangat terbatas bagi para akademisi
masa kabinet Sjahrir tahun 1946. Penunjukan
kemiskinan. Pandangan teknokratis ini melihat pengungsi yang telah pindah ke kota itu.
Indonesia, berlainan sekali dengan koleganya di
sebagai menteri tersebut bukanlah tanpa alasan
negara sebagai alat untuk melakukan reorganisasi Kemampuannya dalam manajemen dan
16
lain negara.” Dan sehingga
karena kerja Djuanda dalam hal transportasi
sosial yang ditugaskan kepada orang-orang ahli. kepemimpinan ini terlihat pada periode ini,
“Daripada perusahaan swasta asing Djuanda melihat agensi perubahan ini hanya maupun perhubungan cukup penting. Pada yaitu sebagai seorang yang tegas dan berani
tidak dapat diharapkan bahwa mereka pada kaum ahli, dan bukan kepada para politisi awal Januari, Djuanda dan keluarga terpaksa tapi sekaligus rasional dan tidak emosional.
ataupun pemimpin masyarakat. Di sini terlihat mengungsi dari rumah mereka di Bandung utara Pada bulan Oktober 1946, ia diangkat sebagai
akan memelopori usaha ke arah itu.
betapa kuatnya tradisi ambtenaar yang dipercayai ke Tasikmalaya sebagai akibat dari kedatangan Menteri Perhubungan dalam Kabinet Sjahrir
Disinilah letak suatu tugas mulia bagi
oleh Djuanda. Oleh karenanya, kedudukan NICA. Di Tasikmalaya, Djuanda menerima ketiga, bersamaan dengan Maria Ulfah Santoso
pemerintah untuk menciptakan tenaga-
Djuanda dalam pemerintah, khususnya di bawah kabar bahwa ia diangkat oleh pemerintah yang diangkat sebagai Menteri Sosial dan Ir.
tenaga pimpinan bagi masa depan
Demokrasi Terpimpin Sukarno, sangat penting Republik sebagai Kepala Djawatan Kereta Gunarso, yang diangkat sebagai Menteri Muda
berhubungan dengan politik, ekonomi
karena membawa sudut pandang konservatif Api Republik Indonesia melalui Maklumat Pengajaran. Posisi Menteri Perhubungannya
dan sosial. Untuk sementara pemerintah
pro-ahli guna membatasi dorongan-dorongan Kementerian Perhubungan No.1/KA tanggal berlanjut di bawah Kabinet Amir Syafruddin.
masalah ini harus dicari dengan usaha populis Sukarno yang anti-ahli. Tak dapat 23 Januari 1946. Pusat Jawatan KA ada di Pada Januari 1948, Kabinet Amir Syafruddin
secara sadar untuk memberikan kepada dipungkiri bahwa teknokrasi Indonesia bisa Cisurupan, Bandung. Ia ditugaskan untuk berganti menjadi Kabinet Mohammad Hatta,
428 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 429

