Page 436 - Perdana Menteri RI Final
P. 436

mantan atasannya seperti Mohammad Natsir,      MASA MUDA DJUANDA
                           Burhanuddin Harahap, Sjafruddin Prawiranegara
                                                                          Lahir di Tasikmalaya pada tanggal 14 Januari
                           ataupun Sumitro Djojohadikusumo, semua
                                                                          1911, Djuanda hidup  di  lingkungan  keluarga
                           untuk mewujudkan cita-cita revolusi Sukarno
                                                                          priyayi “baru” atau priyayi “profesional”, suatu
                           dalam sistem Demokrasi Terpimpin.
                                                                          predikat yang dialamatkan kepada para dokter,
                                                                          guru maupun pegawai-pegawai pemerintahan
                           Walaupun ia adalah orang Muhammadiyah,
                                                                                                      9
                                                                          semenjak awal abad  ke-20an.  Ayah Djuanda
                           Djuanda tidak menempatkan kesetiaannya
                                                                          yang bernama Raden Kartawidjaja adalah seorang
                           kepada sosok Masyumi seperti mantan Perdana
                                                                          mantri guru HIS (Hollandsch Inlandchse School),
                           Menteri Mohammad Natsir. Kesetiaan ini juga
                                                                          suatu sekolah dasar berbahasa Belanda bagi
                           dilakukannya untuk menyetir Sukarno menjauhi
                                                                          anak-anak pribumi. Istri Raden Kartawidjaja,
                           dari pikiran dan tindakan ekstrim. Dalam analisis
                                                                          Nyi Momot, berasal dari Leles suatu desa yang
                           ahli politik Indonesia tahun 1950an yang tersohor
                                                                          dekat dengan Tasikmalaya. Raden Kartawidjaja
                           Herbert Feith, pemimpin Indonesia itu bisa dibagi                                                                                                                                                   Keluarga Menteri Ir. Djuanda. Gambar diambil
                                                                          menjabat sebagai mantri guru HIS di Kuningan                                                                                                         pada tanggal 15 Juni 1953.
                           menjadi dua; kaum administrator/problem solvers
                                                                          pada tahun 1923. Sebagai anak seorang guru,
                                                     8
                           atau  populis/solidarity makers.  Sebagai seorang                                                                                                                                                   Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
                                                                          Djuanda mendapat pendidikan yang memadai.
                                                                                                                    10
                           Sunda yang sopan bertutur dan berlaku baik
                                                                          Sebagai pegawai negeri, Raden Kartawidjaja dan
                           untuk semua orang, ia tetap mempertahankan
                                                                          keluarga harus mengikuti ritme perpindahan                              yang tidak terjangkau bagi kebanyakan anak-    membangun rasa solidaritas dengan penghuninya
                           ‘kesopanan’ berinteraksi dalam masyarakat
                                                                          dinas, dari Tasikmalaya keluarga pindah ke                              anak pribumi karena alasan finansial ataupun   yang sebagian besar anak-anak Eropa dan Indo
                           politik yang mengalami polarisasi tingkat tinggi
                                                                          Kuningan dan kemudian Cicalengka. Djuanda                               akademis. HBS pada waktu itu dipimpin oleh     ini. Ketika tahun 1950an, Djuanda dan nyonya
                           pada masa Demokrasi Terpimpin. Ir. Rooseno
                                                                          dikenal dari sejak kecil sebagai seorang yang                           direktur Dr. J.W. Bart, yang sebelumnya menjadi   mengunjungi Belanda, ia masih kenal dan
                           menyebutkan bahwa kematian Djuanda adalah
                                                                          pendiam, sebuah karakter yang diwarisinya dari                          direktur HBS di Surabaya ketika Sukarno belajar   bertemu dengan salah satu teman asramanya,
                           turning point dalam  pemerintahan Sukarno.
                                                                          ayahnya dan akan terus menemaninya sepanjang                            di sana. Ketika Djuanda belajar di HBS, ada 343   orang Belanda yang memuji kecerdasan Djuanda
                           Tanpa suara Djuanda sebagai administrator,
                                                                          hidupnya.                                                               murid tapi hanya 5 murid pribumi dan 21 murid   sebagai murid HBS. Kawan-kawan sesama HBS
                           maka pemerintahannya dipenuhi oleh kaum
                                                                                                                                                  Tionghoa sementara sisanya adalah murid-murid   menyebut Djuanda sebagai seorang kutubuku.
                           solidarity maker, yang  semakin  menjerumuskan   Pada  tahun  1923, Kartawidjaja diangkat
                                                                                                                                                  Belanda dan Indo.
                           negara ke dalam avontur-avontur yang mahal     menjadi  mantri  guru  HIS  di  Kuningan  dan                                                                          Ia tetap merupakan seorang pendiam, tetapi ia
                                                                                                                                                                                                 juga remaja yang luwes dan dapat menyesuaikan
                           dan   semakin    menghancurkan    ekonomi.     Djuanda menamatkan sekolah ELS (Europeesche                             Djuanda menggunakan kereta api tiap hari
                           Beralihnya kekuasaan dari Djuanda kepada       Lagere School) tahun 1924 di kota yang sama.                            untuk menghadiri sekolah HBS di Bandung,       diri pada setiap ragam kondisi sosial. Ia aktif
                           Soebandrio mengakibatkan pergeseran menuju     Guru-guru ELS mengamati bahwa Djuanda                                   sementara rumahnya berada di Cicalengka,       pula dalam kegiatan olah-raga renang dan polo

                           pandangan-pandangan yang lebih simpatik        merupakan anak pendiam yang cerdas dan                                  sebuah perjalanan empat jam pulang-pergi,      dan bergabung dalam perkumpulan Neptunus
                           terhadap PKI. Kematian Djuanda pada usia yang   mereka mengakselerasi pendidikannya loncat                             sebelum ia dimasukkan ke asrama siswa          Bandung. Tampak bahwa kehidupan Djuanda
                           relatif muda di 52 tahun hidupnya, bisa dilihat   dari kelas V ke kelas VII, suatu prestasi yang                       (Algemeen Indisch Internaat) di Bandung oleh   merupakan kehidupan elit anak-anak Hindia
                           sebagai tragedi nasional. Peran-sertanya dalam   hebat untuk seorang anak pribumi. Disiplin dan                        ayahnya. Di asrama ini, Djuanda mengalami      Belanda yang multirasial dan multikultur tetapi
                           usaha dekolonisasi, pembangunan negara serta   kecermatan  dalam  belajar  telah didapatkannya                         kehidupan yang penuh peraturan dan disiplin.   merasa memiliki saling keterikatan karena
                           pembentukkan fondasi untuk pembangunan         dalam pengalaman di ELS dan akan dibawanya                              Dia belajar untuk memecahkan persoalan         gaya hidup kelas-menengah perkotaan yang
                           negara dan bangsa merupakan sesuatu yang tidak   sampai tua. Ia kemudian melanjutkan ke HBS                            bersama, melakukan kegiatan olah-raga, musik   sama. Hubungan baik dengan orang Belanda
                           boleh dilupakan oleh generasi muda.            (Hogere Burger School) Bandung, suatu sekolah                           dan kesenian dengan anak-anak lainnya serta    menunjukkan bahwa dari sejak kecil, walaupun





                           424   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  425
   431   432   433   434   435   436   437   438   439   440   441