Page 127 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 127
Lama menunggu jawaban, tapi pesanku tidak juga dibaca
oleh Bang Angga. Kuputuskan untuk menemuinya di kosan,
lagi‐lagi tidak kutemukan. Aku heran, tidak biasanya Bang
Angga seperti ini. Tiba‐tiba muncul sahabatnya dan
mengatakan Angga mendadak berangkat ke luar kota karena
ada tawaran kerjaan dari temannya.
Malam kian larut, mataku masih terbuka lebar seperti
bulan purnama yang berada nun jauh di sana. Kepalaku masih
dipenuhi oleh beribu pertanyaan. “Kenapa Bang Angga
berbuat seperti ini, ke mana dan dengan siapa dia pergi?”
Aku terus memandangi gawai, berharap kalau Bang
Angga menghubungi atau membalas pesanku. Namun sampai
esok hari yang kutunggu tak kunjung ada.
***
Aku mulai resah, teringat perkataan Bang Angga dua
bulan yang lalu. saat kami duduk di pantai sambil menikmati
es kelapa muda. “Mia, akhir‐akhir ini biaya kuliahku semakin
banyak. Bagaimana kalau aku istirahat dulu dan mencari
pekerjaan.”
“Memangnya Bang Angga mau kerja di mana?” tanyaku
sambil bergayut manja di bahunya.
“Ada yang menawarkan pekerjaan di luar kota. Gajinya
lumayan besar, tapi syaratnya sangat berat,” jawab Bang
Angga sambil merangkul bahuku.
“Apa syaratnya?” tanyaku sambil memandang laut lepas
dihadapan kami.
“Aku harus menikah dengannya,” jawab Angga sambil
memutar tubuhnya menghadapku.
Aku kanget bukan main, spontan kutarik kepalaku yang
menyandar di bahunya. “Apa? tanyaku seolah tidak percaya.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 115

