Page 129 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 129
Pilihan
Oleh: Irma Suryani Lubis
C akrawala berbinar seolah hendak menyapa ibu yang
sudah tiba di tanah perantauan. Di depan pintu keluar
Bandara Kuching Malaysia, Pak Bajo menjemput ibu.
Pak Bajo adalah yang membawa para pencari kerja.
Pengalaman pertama ibu jauh dari desa kelahirannya, Bima,
Nusa Tenggara Barat.
Malaysia menjadi tempatku menghabiskan hari‐hari.
Tidak ada protes yang patut aku sampaikan. Ibu pernah
bilang, di Bima pun tidak ada penghasilan cukup untuk
menghidupi ketujuh anaknya. Di Kota Bima ibu pernah
menjalani berbagai pekerjaan, seperti menjadi tukang masak,
buruh cuci, bahkan mengurusi sawah warga yang tidak punya
waktu untuk mengurus. Mereka sibuk mengurusi kuda
peliharaannya.
Rumah tumpangan berdinding kayu dari Pak Mas’un
hanya bisa dimasuki dengan kepala tertunduk bagi orang
dewasa. Ibu teringat akan perjalanan panjang bersama ayah.
Malam sudah menuju waktu tahajud, tapi ibu masih dengan
ceritanya. Sambil menikmati lekor goreng dan kopi hangat
buatanku menjadikan mata tidak juga ingin melakukan
tugasnya. Sesekali terlihat ibu mengeluarkan kristal‐kristal
kecil dipipinya.
“Ibu kenapa menangis?” tanyaku penasaran.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 117

