Page 321 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 321

olimpiade yang tak pernah padam. Hingga lima tahun berlalu
              Dionku sudah menjadi pilot maskapai luar negeri, sedangkan
              aku berhasil mewujudkan impian kanak‐kanak dulu, menjadi
              arsitek.  Meski  aku  di  Jakarta  dan  Dion  sering  berada  di
              berbagai penjuru dunia, komunikasi kami tetap lancar bagai
              jalan  tol.  Segala  macam  cerita  kami  bagi  berdua.  Dari  yang
              receh  hingga  yang  paling  penting,  yaitu  masa  depan.  Kami
              sudah memutuskan akan mengarungi samudera kehidupan.
                  Aku  pulang  ke  Padang,  mengabarkan  niat  baik  kepada
              orang  tuaku.  Mereka  menyambut  gembira  dan  meminta
              keluarga  Dion  segera  datang.  Waktu  lamaran  sudah
              ditentukan.  Dion  dan  orang  tuanya  akan  datang.  Namun,
              posisi Dion yang masih di Jepang membuat pikiranku kacau.
              Aku menunggunya dengan harap‐harap cemas. Harusnya dia
              sudah  sampai  di  Padang  dua  hari  sebelum  lamaran.  Karena
              tugas yang tidak bisa diwakilkan, Dion baru bisa hadir di hari
              H.  Berulang  kali  dia  menelepon  untuk  menenangkan  dan

              meyakinkanku bahwa dia pasti sampai di rumah tepat waktu.
                  Hari  itu  pun  tiba,  Dion  mengabarkan  telah  sampai  di
              Jakarta  dan  menunggu  pesawat  transit  ke  Padang.  Da
              berpesan padaku untuk sabar menunggu dan tetap tenang.
                  “Paling  lama  tiga  jam  lagi,  istriku.  Eh,  masih  calon  ya,”
              godanya di akhir pembicaraan.
                  Aku  hanya  tersenyum.  “Dion  pandai  menyejukkan  hati.
              Dia  memang  calon  imam  idaman.  Beruntung  sekali  orang
              yang menjadi istrinya,” gumamku.
                  Aku  beranjak  ke  kamar.  Tanpa  sengaja  tanganku
              menyenggol  pigura  foto  Dion  di  meja  rias.  Pigura  itu  jatuh,
              pecah  berderai.  Aku  histeris  merasakan  firasat  buruk.  Di


                                Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 309
   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325   326