Page 316 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 316
Mang Arun
Oleh: Hj. Yunilawati
M
atahari memancarkan cahaya dari sebagian
wajahnya. Pepohonan terlihat jauh di pegunungan
nan menjulang, menyentuh langit dari pandangan
mata yang mulai berkabut. Dengan tertatih‐tatih Mbok Iyem
menelusuri tepian batang sawah menuju tempat
berkumpulnya orang‐orang bertukar rezeki.
Mang Arun melangkah di hadapannya tanpa menoleh.
Bayangan dan rintihan keluarga menjadikan dia lebih kuat
untuk melangah secepat kilat. Terbayang gadis kecil mereka
yang ingin melanjutkan pendidikan. Tak satu kata pun keluar
dari bibir Mang Arun untuk menjawab pertanyaan anak
gadisnya.
“Abah, nanti Ati masih bisa sekolah ‘kan?” tanya anak
Mang arun.
Tak ada kata yang terucap dari bibir Mang Arun.
Langsung saja dia berangkat ke musala terdekat untuk
menunaikan salat Subuh. Seolah tak mendengar apa‐apa,
Mang Arun keluar dari tempat mereka berteduh, kediaman
yang sudah hampir menyatu dengan tanah. Jika hujan disertai
angin kencang, pasti pondoknya sudah menyentuh bumi.
Alhamdullilah, sampai saat ini istana mungil masih kokoh
berdiri.
***
304 | 80 Cerpenis MediaGuru

