Page 317 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 317
Hampir setengah tahun ini, Mang Arun tidak
mendapatkan hasil kebun untuk dijual. Padahal hanya itu
yang ditunggu untuk menghidupi keluarganya. Semua
bagaikan tertiup angin. Impian hilang begitu saja, resah
seperti tak menginjak bumi.
Ketika tiba di pasar, aku menangkap kegelisahan Mang
Arun. Dia tak bergairah menemaniku berbelanja. “Mang Arun,
kok melamun saja. Ada apa?” Aku berusaha menanyakan apa
yang terjadi.
“Bu, tolong belilah sayuran ini berapa saja harganya.”
“Besok ‘kan masih bisa dijual, Mang Arun, kenapa harus
sekarang juga?”
“Ya, saya butuh tambahan uang untuk biaya anak
sekolah,” ucap beliau sambil tertunduk lesu tanpa berani
menatap kearahku.
“Untuk apa aku membeli sayuran sebanyak ini,” pikirku di
dalam hati, “Baiklah aku bawa saja untuk anak‐anak yang
membutuhkan di seberang rumah.”
Banyak kehidupan orang‐orang seperti Mang Arun.
Berbagai sektor terkena imbas terhadap situasi ini, tetapi
kehidupan harus tetap dijalani.
Wajah tirus terlihat dari Mbok Iyem. Asam lambung
kronis sekarang menghampirinya. Terasa lengkap
penderitaan keluarga Mang Arun. Setiap bulan harus
menyambangi rumah sakit untuk istrinya. Masa pandemi ini
membuat Mang Arun dan banyak orang berpikir keras dan
lebih sabar menghadapai kehidupan. Mang Arun memang
suami dan abah yang baik. Dia tidak pernah menampakkan
kegelisahan pada keluaraganya. Hanya kekuatan doa yang
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 305

