Page 125 - Fikih MI KMA 183 - Kelas 5
P. 125
Sehari-hari ia dan keluarga hidup dengan penghasilan pas-pasan untuk kebutuhan hidup
sehari-hari. Namun ia selalu berdoa untuk bisa menyempurnakan agamanya dengan
menunaikan rukun Islam yang kelima itu.
Kehidupan setiap hari dilalui dengan apa adanya hanya berharap dan berdoa agar bisa
mewujudkan cita-citanya dapat menyempurnakan Islam. Tak lupa, ia pun rajin menabung dan
dan memohon doa dari kedua orang tua, juga doa orang-orang yang baru saja pulang
menuaikan ibadah haji dan umrah. Guru madrasah ini benar-benar ingin berhaji. Tiap ia
bertugas mengumandangkan adzan saat upacara pemberangkatan haji, ia bersemangat dan
sambil menangis dalam hati: ”Kapan aku bisa seperti beliau berangkat haji.”
Suatu hari sang kakak ipar datang ke rumah dengan membawa suasana tak biasa.
”Dik, yuk kita daftar haji nanti istrimu saya daftarkan.”
Pak guru sempat bingung, uang dari mana yang bakal ia gunakan untuk mendaftar.
Berutunglah, tabungan yang ia miliki cukup untuk itu meski sangat pas. Ia nekad
UJI PUBLIK
mendaftarkan diri berdua dan lima saudara yang lain.
Singkat cerita pada tahun 2017 ia dan saudara-saudaranya berangkat menunaikan haji
bersama. Sesampai di Makkah, perasaan bahagia tak bisa diutarakan dengan kata-kata.
Peristiwa itu betul-betul serasa mimpi. Rombongan masuk Masjidil Haram untuk thawaf
qudum. Saat melihat Ka’bah dalam jarak dekat, matanya terbelalak. Sambil mengucapkan
doa melihat Ka’bah mulailah air mata menetes sambil berkata dalam hati, ”Terima kasih ya
Allah, Kau telah memanggilku untuk ke rumah-Mu. selanjutnya, ia thawaf dan lagi-lagi air
matanya tak berbendung karena ia kini melihat langsung kiblat yang selama ini ia tuju.
Labbaika Allâhumma labbaik, labbaika lâ syarîkala laka labbaik. Dalam haru dan syukur itu
ia berdoa semoga orang-orang dengan niat tulus, tak putus ikhtiar, dan doa mendapatkan
anugerah yang sama melalui jalan yang halal dan membawa keberkahan.
FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS V 109

