Page 24 - Buku Sakti Fasilitator
P. 24

4.  Ice Breaking
             Kehadiran peserta di dalam sebuah kegiatan outbound tentunya dilatarbelakangi
             oleh motivasi yang berbeda. Ada yang hadir karena ingin mengembangkan diri,
             mencari penyegaran dari pekerjaan, memperoleh pengalaman, sekedar ikut-
             ikutan, bahkan ada pula yang hadir dengan keterpaksaan. Motivasi tersebut
             akan mempengaruhi cara peserta menanggapi fasilitator dan aktivitas-aktivitas
             di dalamnya. Tanpa motivasi yang kuat, peserta akan cenderung cuek dan tak
             acuh terhadap apa yang disampaikan fasilitator. Ada pula situasi dimana peserta
             merasa belum nyaman dengan peserta lain karena adanya perbedaan status,
             usia, jabatan, dan sebagainya yang kemudian menciptakan dinding pemisah
             antara peserta yang satu dan yang lainnya. Disanalah ice breaking hadir sebagai
             metode untuk mencairkan kekakuan dan kebekuan tersebut.


             Berdasarkan buku 100 Training Games oleh Gary Kroehnert, dua tujuan utama
             penggunaan ice breaking dalam suatu kegiatan adalah sebagai media saling
             mengenal antar peserta, dan sebagai jembatan yang mengantarkan peserta
             menuju inti kegiatan. Dengan  adanya ice  breaking, diharapkan terciptanya
             rasa nyaman antar sesama peserta yang kemudian membangun motivasi untuk
             berpartisipasi dan melakukan aktivitas-aktivitas di dalam kegiatan.


             Durasi  pelaksanaan  ice  breaking  sangat  kondisional,  tergantung  dari  tingkat
             kecairan peserta. Selama melakukan ice breaking, seorang fasilitator harus peka
             dalam menentukan sudah seberapa “cair” peserta. Apabila peserta sejak awal
             peserta sudah terlihat bergairah dalam mengikuti kegiatan, maka ice breaking
             dapat dilakukan secukupnya saja. Namun apabila peserta belum merasa
             nyaman tetapi ice breaking sudah dihentikan, ada kemungkinan munculnya
             penolakan atau apatisme dari peserta pada sesi-sesi berikutnya. Selama sesi ice
             breaking, fasilitator juga harus peka untuk mendata dan mengenali karakteristik
             peserta yang muncul melalui umpan balik seperti celetukan dan gesture yang
             dimunculkan. Hal ini akan berguna saat fasilitator memerlukan keterlibatan
             peserta dalam permainan.

             Penyampaian ice breaking yang akan menjadi fokus pada buku ini adalah ice
             breaking melalui permainan yang kemudian dikelompokkan menjadi 4 jenis
             yakni :









    20 20      Buku Sakti Fasilitator Outbound
   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29