Page 185 - BUKU NATIONAL INTEREST DAN AGENDA PEMBANGUNAN EDISI KE-2
P. 185
KIPRAH TAHUN KEDUA WAKIL KETUA DPR/KORINBANG DR. (H.C.) RACHMAT GOBEL
Garuda harus likuidasi, tidak bisa hanya didasarkan pada perhitungan
faktor bisnis atau finansial semata.
Lika Liku Proyek Kereta Cepat
Sejatinya, Rachmat Gobel adalah pendukung pembangunan kereta cepat
yang merupakan program priotas pemerintahan Presiden Joko Widodo. Oleh
karena itu, meski memiliki kedekatan dengan Jepang, bahkan ia adalah Ketua
Asosiasi Persahabatan Indonesia-Jepang dan memiliki preferensi terhadap
negara Matahari terbit ini, Rachmat Gobel tidak pernah mempermasalahkan
atau mengkritisi pemerintah ketika lebih memilih menggandeng China
ketimbang Jepang dalam menggarap proyek ini.
Dilihat dari sejarahnya, perjalanan proyek kereta cepat ini memang penuh
lika-liku. Gagasan pembangunan kereta cepat sudah ada sejak era Presiden
SBY. Seperti dilaporkan majalah Tempo, pada April 2011 Kementerian
Perhubungan membuat Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, yang di
dalamnya memuat program kereta cepat Jakarta-Surabaya pada 2030. Lalu
pada Oktober 2011, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional
menggagas proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
Untuk mewujudkan gagasan itu, pemerintah meminta bantuan teknis
pemerintah Jepang. Permintaan ini dipenuhi dengan menugaskan Japan
International Cooperation (JICA) melakukan prastudi dengan menggunakan
hibah US$ 500 ribu. Studi awal ini selesai pada Maret 2012. Pada Januari 2014
dilakukan studi kelayakan tahap pertama, dengan tetap dibiayai dana hibah
Jepang US$ 3,5 juta. Namun sampai masa periodenya berakhir, pemerintahan
SBY pada saat itu tidak berani mengambil keputusan atas hasil studi ini.
Kemudian, entah atas inisiatif siapa, saat kunjungan ke China pada Februari
2015, Presiden Jokowi yang baru beberapa bulan dilantik menggantikan SBY,
membicarakan kemungkinan kerjasama pembangunan kereta cepat. China
tampaknya tertarik. Lalu Menteri BUMN yang saat itu dijabat Rini Soemarno
meneken MoU dengan Negara Tirai Bambu ini untuk rencana pembangunan
kereta cepat Jakarta-Bandung. China kemudian melakukan studi kelayakan
yang diberitakan menghabiskan dana US$ 5 juta.
Langkah Rini itu menandai terjadinya persaingan sengit Jepang vs China
dalam memenangkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Dalam waktu
singkat yaitu pada 11 Agustus 2015, China mengirim proposal dengan
mengajukan biaya investasi US$ 5,585 miliar. Jepang tidak tinggal diam,
merevisi proposal yang pernah dibuat di era SBY, pada 26 Agustus 2015
negara ini mengajukan penawaran US$ U$ 6,223 miliar.
167

