Page 197 - Land Reform Lokal Ala Ngandagan: Inivasi system Tenurial Adat di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964
P. 197

Land Reform Lokal A La Ngandagan


            3.  Marmo (66 tahun): Penduduk asli dusun Karang
               Turi, Ngandagan. Pensiunan pegawai Pekerjaan
               Umum. Sewaktu kecil ia mengalami sendiri rumahnya
               dipindahkan atas perintah Soemotirto ke pekarangan
               orang lain. Marmo juga termasuk gelombang pertama
               yang beralih ke agama Katolik dari kalangan pemuda.
               Dia turut menjalani pengajaran agama Katolik dari
               rumah ke rumah, tatkala di Karang Turi belum dibangun
               gereja.
            4.  Mintardjo (74 tahun): Seorang eksil asli Purworejo
               yang saat ini tinggal di Leiden. Selepas sekolah dasar, ia
               melanjutkan pendidikannya di Yogyakarta. Ia menyukai
               olah raga sepakbola dan pernah tergabung dalam Klub
               Sepakbola Mataram. Pada awal tahun 1960-an, ia
               mendapat tugas belajar dari presiden Soekarno untuk
               mendalami sepakbola ke negeri Sosialis, Rumania. Ketika
               terjadi peristiwa 1965, para terpelajar yang berada di
               negara-negara sosialis, termasuk Mintardjo, kesulitan
               bahkan dilarang kembali ke Indonesia. Mintardjo
               dalam waktu yang lama tinggal dan menikah dengan
               orang asli Rumania. Ia kemudian pindah ke Leiden
               dan mendirikan Yayasan Sapu Lidi, sebagai tempat
               berkumpul para mahasiswa asli Indonesia.
            5.  Ngatiyah (67 tahun): Ia kelahiran Kutawinangun dan
               menetap di Ngandagan setelah menikah dengan Ngasri,
               seorang pamong desa di masa kepemimpinan Soemotirto.
               Ngatiyah saat ini hidup sendiri di Ngandagan. Kedua
               anaknya bekerja di Jakarta.





            168
   192   193   194   195   196   197   198   199   200   201   202