Page 200 - Land Reform Lokal Ala Ngandagan: Inivasi system Tenurial Adat di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964
P. 200

Profil Informan


                telah mengalami banyak perubahan pada masa
                sepeninggal Soemotirto. Tatkala terdapat rencana
                pelaksanaan program pemutihan (sertipikasi) dari
                pemerintah pada masa kepemimpinannya, terjadi
                penolakan keras dari masyarakat. Sertipikasi urung
                dilakukan. Saat ini Tukiyono menjadi guru negeri di
                sebuah SMA di Kecamatan Pituruh.
             13. Waris Sutopo (sekitar 45 tahun): Ia adalah anak ke-7 dari
                9 anak lurah Cipto Waluyo (bukan nama sebenarnya).
                Ia sekarang menjabat sebagai sekretaris desa, yang
                baru-baru ini diangkat sebagai pegawai negeri sipil. Ia
                mewarisi tanah terluas kedua di desa Ngandagan ini.
                Saat ini ia tinggal di Karang Turi sisi barat, yang secara
                kultural lebih dekat dengan dusun Krajan.
             14. Warno (83 tahun): pada waktu Presiden Soekarno
                datang ke Ngandagan, rumah Warno-lah yang dijadikan
                tempat pelaksanaan PBH. Soekarno turut memberikan
                pengajaran di rumah itu. Pada tahun 1959 ia menikah
                dengan gadis asal kota Purworejo. Tahun 1960 ia diajak
                famili istrinya untuk bekerja di Peruri, PT. Artayasa.
                Ia bekerja di bagian logam. Ia bergabung dalam
                Serikat Buruh Artayasa (Sebaya). Ia pulang kembali
                ke Ngandagan beberapa bulan setelah Soemotirto
                meninggal. Dulu ia sangat dekat dengan Soemotirto.
                Rumahnya selang 3 rumah dari kediaman sang lurah.
                Saat ini ia mendiami rumah masa kecilnya itu.









                                                             171
   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204   205