Page 199 - Land Reform Lokal Ala Ngandagan: Inivasi system Tenurial Adat di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964
P. 199

Land Reform Lokal A La Ngandagan


               Ngandagan. Saat ini Soekatmo bertugas sebagai imam
               gereja di Karang Turi. Gereja dan rumahnya dibangun
               di atas tanah bekas milik Soemotirto.
            9.  ST. Subroto (sekitar 55 tahun): Ia saat ini adalah lurah
               Ngandagan untuk periode kedua. Ia menjabat sejak
               tahun 1998. Subroto memiliki tanah paling luas di desa
               Ngandagan. Subroto adalah warga Ngandagan pertama
               yang lulus SLTA. Sebelum menjabat lurah, ia pernah
               bekerja di dinas pengairan.
            10. Suwarni (67 tahun): Ia asli kelahiran Ngandagan,
               anak dari Carik Mangkudisastro. Kakeknya adalah
               Lurah Karanganyar. Saat masih remaja, Suwarni
               adalah kembang desa yang tersohor. Selain cantik, ia
               sangat pintar menari, terutama tarian bondan. Banyak
               orang tertarik padanya. Pernah mengajar TK Melati di
               Ngandagan. Saat ini ia tinggal di Karang Anyar, desa
               tetangga Ngandagan.
            11. Tomorejo (80-an tahun): Pamong desa empat
               generasi. Ia lama menjabat sebagai Kaur Pembangunan
               sampai dengan tahun 2002. Meski kini kemampuan
               pendengarannya telah berkurang,  ingatannya masih
               tetap tajam. Dua anaknya tinggal di Jakarta, dan seorang
               lagi menemaninya di rumah bersama menantunya yang
               menjabat sebagai Kepala Hansip (Danton) desa.
            12. Tukiyono (54 tahun): Lurah Ngandagan periode
               1989-1998. Waktu terpilih menjadi lurah, ia masih
               berusia likuran tahun. Masyarakat memilihnya karena
               dinilai cukup terpelajar dibanding calon lainnya. Ia
               mengakui rumitnya pengaturan sawah buruhan yang



            170
   194   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204