Page 16 - REFORMA AGRARIA INKLUSIF
P. 16

BAB I

                     Pendahuluan












            Reforma Agraria merupakan modal dasar pembangunan di banyak
            negara.  Untuk konteks Indonesia,  Reforma  Agraria  diwujudkan
            dengan  perombakan  struktur  penguasaan  tanah agar  setiap  warga
            negara  Indonesia  mempunyai akses atas  ruang  hidup dan  sumber
            penghidupan yang dilindungi dengan kepastian hak (Arisaputra 2016
            dan Muryani et al. 2023).

                Di Indonesia, struktur penguasaan tanah mengalami perubahan
            pola  sejak masa  feodalisme, kolonialisme,  hingga kemerdekaan.
            Pola ketiga era itu berbeda dalam watak, semangat, dan praktik tata
            pengurusan Sumber-sumber Agraria (SSA).

                Pada  era  Feodalisme, raja  merupakan pemilik  tunggal  seluruh
            wilayah kekuasaan kerajaannya, pengusahaan tanah ditujukan untuk
            sebesar-besarnya kemakmuran keluarga raja dan punggawa kerajaan.
            Di Jawa,  jumlah  penduduk (cacah)  sangat  penting  karena mereka
            adalah tenaga kerja tanpa upah yang menghasilkan nilai dari tanah,
            nilai tanah masih diukur dari seberapa besar hasil dari pengusahaan
            tanah, tanah luas tanpa manusia penggarap kurang bernilai. Berbeda
            dengan masa kolonial yang mulai memaknai tanah sebagai aset meski
            tidak digarap,  tanah  yang  belum diusahakan adalah  modal  yang
            menyimpan kekayaan.
                Pada masa Kolonialisme, posisi raja digantikan oleh pemerintah
            kolonial,  pengusahaan  tanah  untuk memperkaya negara induk
            dari negara-negara koloni. Hak-hak barat yang menjadi cikal bakal
            hak-hak  tanah  yang dikenal  saat  ini  mulai dikenalkan  pada era
   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21