Page 196 - Jalan Penyelesaian Persoalan Agraria: Tanah Bekas Hak, Pengakuan Hukum Adat, Penataan Tanah Batam, Percepatan Pendaftaran Tanah, dan Integrasi Tata Ruang
P. 196

Integrasi Perecanaan Tata Ruang dan Pertanahan ...     179

            2.  Terjadinya  perubahan  berbagai  kebijakan  pemerintah  terkait
               dengan penataan ruang maupun substansinya di tingkat Nasional
               yang  sebelumnya  berlaku  UU  No.  24  Tahun  1992  tentang  Tata
               Ruang , ini digantikan dengan Undang-undang Nomor 26 Tahun
               2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor
               15  Tahun  2010  tentang  Penyelenggaraan  Tata  ruang,  .Sehingga,
               perlu  dilakukan  berbagai  penyesuaian  dan  kajian  kembali
               terhadap landasan hukum penyusunan RTR.
            3.  Munculnya  tuntutan  dan  tantangan  di  masa  yang  akan  datang
               seiring dengan terjadinya paradigma baru pembangunan. Paradig-
               ma baru ini menuntut terwujudnya good governance yang pada
               dasarnya  mengedepankan  peran  masyarakat  melalui  prinsip-
               prinsip demokratisasi, akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi.
                 Sumber Daya Alam berupa tanah dan air yang ada , umumnya
            dapat digunakan untuk mendapatkan kualitas lingkungan yang baik
            melalui  kawasan  yang  terintegrasi.  Sudah  barang  tentu  degradasi
            lingkungan tidak dapat dibiarkan terus berlangsung, salah satu jalan
            keluar  untuk  mengatasi  kemelut  terjadinya  proses  degradasi  yang
            mengancam perkotaan adalah upaya-upaya penyusunan tata ruang
            secara terpadu yang berwawasan lingkungan.
                 Tata ruang harus disimak tidak sekedar sebagai proses penge-
            lolaan perubahan lingkungan binaan dan alam semesta, melainkan
            harus  lebih  dilihat  sebagai  upaya  penyelesaian  berbagai  benturan
            kepentingan  yang  berbeda  atas  pemanfaatan  lahan  yang  semakin
            terbatas. Di Daerah Khusus Ibu Kota yang merupakan Kota Metro-
            politan  dan  kota-kota  besar  lainnya  yang  terus  melakukan  pem-
            bangunan  gedung-gedung  seiring  dengan  meningkatnya  pertum-
            buhan  penduduk  dalam  membenahi  pembangunan  kota  menjan-
            jikan harapan dan kesegaran tersendiri. Biarpun pembenahan atau
            koreksi yang dilakukan sedikit lambat namun paling tidak dampak
            positipnya sudah mulai terasa. Contohnya aparat yang terlibat dalam
            pengelolaan perkotaan menjadi lebih hati-hati dalam perencanaan
            dan pemberian ijin pembangunannya. Demikian juga yang terjadi di
            wilayah Jakarta Barat yang menjadi lokasi penelitian yang merupakan
            bagian  dari  Kota  Metropolitan,  yang  merupakan  salah  satu  pusat
            pengembangan pariwisata, bisnis, perumahan , industri dan lain-lain,
   191   192   193   194   195   196   197   198   199   200   201