Page 351 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 351

pernah ada. Cirebon dan Jakarta kini terasa jauh lebih renggang

          daripada sekadar jarak ribuan kilometer.

               Pikiranku pun mulai berkelana liar, membayangkan hiruk-
          pikuk lebaran di rumah nanti. Aku tidak tahu bagaimana harus

          menghadapi berondongan pertanyaan dari keluarga besar. Masih
          segar  dalam  ingatan  betapa  berseri-serinya  wajahku  saat

          mengenalkannya  sebagai  calon  imam,  sebagai  muara  tempatku

          berhenti.  Membayangkan  harus  menjelaskan  bahwa  lelaki  yang
          pernah aku bawa dengan penuh rasa bangga itu kini telah menjadi

          asing, rasanya seperti mengulang luka yang sama berulang kali.

               Sayang,  apa  kabarmu  di  sudut  Jakarta  sana?  Di  hari-hari
          seperti  ini,  ingatanku  biasanya  dipenuhi  oleh  suaramu  yang

          merajuk,  melarangku  pulang  ke  Cirebon  karena  tak  sanggup

          menahan  rindu.  Aku  baru  saja  memutar  kembali  rekaman
          percakapan  kita—suara  yang  kini  terasa  seperti  sembilu.  Aku

          mendengar lagi permintaanmu agar aku jangan lama-lama mudik,

          hanya 14 hari tapi kamu sudah merasa kehilangan. Betapa manis
          sekaligus  menyakitkan  janji-janji  kecil  itu.  Namun  sekarang,

          realitanya jauh lebih pahit: aku tidak hanya pergi ke Cirebon untuk

          sementara, aku telah pergi dari hidupmu untuk selamanya.





                                                                        351
   346   347   348   349   350   351   352   353   354   355   356