Page 40 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 40
BAB 8 : MAGNITUDO JARAK
24 Oktober 2025: Tiga Hari Tanpa Presensi Farras
Semburat mentari pagi ini menyusup melalui celah gorden
dengan begitu gigih, menyapa kulitku dengan kehangatan yang
terasa berbeda. Ada binar yang tak biasa pada langit Jakarta hari
ini, mungkin karena semesta tahu bahwa untuk tiga hari ke depan,
napas yang selama ini terasa sesak akan menemukan ruangnya
kembali. Farras akan bertolak ke Lampung. Sebuah keberangkatan
yang secara diam-diam aku rayakan sebagai sebuah kemerdekaan
kecil.
Belakangan ini, jiwaku terasa mengerut, kehabisan daya
hanya untuk mengimbangi intensitas kehadirannya yang tanpa
jeda. Menemuinya di ufuk pagi lalu kembali terjebak dalam
tuntutan kehadirannya saat malam tiba adalah rutinitas yang
perlahan menggerus kewarasanku. Berkali-kali aku mencoba
membangun dinding penolakan, namun ia selalu punya cara untuk
merobohkannya, memaksakan kehendak meski aku sudah
bersuara lantang untuk sekadar ingin sendiri.
Pukul 15.00 WIB, sebuah notifikasi muncul di layar
ponselku. Pesan singkat darinya mengabarkan bahwa ia sedang
bergerak menuju Bandara Soekarno-Hatta. Aku menarik napas
40

