Page 38 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 38

Ia  terus  menggerutu  tentang  tiket  pesawat  pukul  18.00

          WIB.  Logikanya  berputar  pada  hitung-hitungan  waktu  yang

          sempit. Ia baru pulang kantor sekitar pukul 17.00 WIB, lalu harus
          menembus kemacetan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Baginya,

          jadwal  itu  adalah  musuh,  ia  khawatir  tak  akan  sempat
          menunaikan salat Magrib di tengah hiruk-pikuk perjalanan. Dalam

          kegelisahannya,  ia  mulai  menimbang-nimbang  kemungkinan

          untuk meminta izin pulang lebih awal demi mengejar waktu yang
          kian mencekik.

                 Kekesalannya  tidak  berhenti  di  situ.  Di  sela-sela

          keluhannya,  ia  menyisipkan  rasa  sesal  yang  mendalam  tentang
          akhir pekan ini. Seharusnya, kami menghabiskan waktu bersama,

          menghirup  aroma  laut  dan  menyesap  suasana  santai  di  PIK,

          bukannya ia yang harus terbang jauh ke luar kota demi urusan
          pekerjaan.

          "Padahal aku pengen ngajakin kamu ke PIK hari minggu, eh malah

          harus ke Lampung buat kerja."   ucapnya, seolah memprotes takdir
          yang sedang tidak berpihak pada rencana kami.

          “Masih ada banyak waktu, kan bisa minggu depan” , timpalku.

               Di  penghujung  percakapan  yang  penuh  riuh  emosi  itu,
          suaranya melunak saat ia bertanya tentang apa saja yang harus ia

          siapkan  di  dalam  koper.  Meski  ada  rasa  lelah  mendengar


                                                                          38
   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43