Page 26 - e-modul fiqih
P. 26
Semester Ganjil I MTs Bustanul ‘Ulum
Artinya: Ibnu Umar radliallahu 'anhuma telah mengabarkan kepadanya, dia
berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambiasa menyembelih
binatang kurban di tempat yang di gunakan untuk shalat (ied)." (HR. Al-
Bukhari No.5126).
5. Sunnah dalam Menyembelih Hewan Kurban
Hal-hal yang disunnahkan saat menyembelih hewan kurban adalah
sebagai berikut:
a. Hewan kurban hendaknya disembelih sendiri jika orang yang berkurban itu
laki-laki dan mampu menyembelih, sebagaimana yang dilakukan oleh
Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis berikut:
َ
َ
ْ َ
َ
َّ
َّ
َ
َ
ُهُتْيأ َ رو َلاَق نْين َ رقأ نْيَحَلْمأ نْيشْبَكب ملَسو ِهْيَلَع ُ َّ الل ىلَص ِ َّ الل ُلوُس َ ر ىَّحَض َلاَق ٍ سَنأ ْ نَع
َ
َ
ِ
ِ
ِ
ِ َ
َ
ْ
) ملس م هاو ( ر َ رَّبَكو ىَّمَسو َلاَق امه ِ حاَف ِ ص ىَلَع همَدَق اًع ِ ضاو هُتْيأ َ رو ِهِدَيب امُهُحَبذَي
ُ
ُ
َ
َ
َ
ِ َ
َ ِ
َ
َ
Artinya: “Dari Anas Ra. beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah berkurban dua ekor domba putih yang bertanduk." Anas
melanjutkan, "Saya melihat beliau menyembelih keduanya dengan tangan
beliau sendiri sambil membaca basmalah dan takbir, dan dengan
menginjakkan kaki di pangkal leher domba itu." (HR. Muslim No.3636).
Apabila pemilik kurban tidak bisa menyembelih sendiri sebaiknya
diserahkan pada orang alim dan ahli dalam melakukan penyembelihan.
Kemudian orang yang berkurban dianjurkan ikut datang meyaksikan
penyembelihannya. Disyariatkan bagi orang yang berkurban bila telah masuk
bulan Zulhijjah untuk tidak memotong rambut dan kukunya. Hal ini sesuai
dengan sabda Rasulullah Saw:
ُ
َ
َ
َ
ْ
َّ
َّ
ُ
ي ِّحَضُي ْ نأ ْمُكد َحأ َدا َ رأو ُ رْشعلا ْ تَلَخَد اَذإ َلاَق ملَسو ِهْيَلَع ُ َّ الل ىلَص يبَّنلا َّ َ نأ َةمَلَس ِّ مأ ْ نَع
َ
َ
َّ ِ
َ
ِ
َ
َ
َ
) ملس م هاو ( ر اًئْيَش ِهرَشَبو ِهرعَش ْنِم َّ سمَي َ لََف
َ
ِ َ
ِ
َ
Artinya: “Dari Ummu Salamah Ra. Bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda
“Apabila telah masuk 10 hari pertama (Zulhijjah) dan salah seorang kalian
hendak berkurban, maka janganlah dia mencukur rambut dan kukunya
sedikitpun.” (HR. Muslim No.3653)
IX
IX Fiqih Ibadah 25