Page 23 - Pendidikan Pancasila SMA Kelas XI
P. 23
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta,
dan KRT Radjiman Wedyodiningrat kembali ke Indonesia dari Dalat,
Vietnam. Kedatangan mereka disambut oleh para pemuda yang mendesak
agar kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan secepatnya karena
mereka tanggap terhadap perubahan situasi politik dunia pada masa itu.
Pada awalnya, pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan
Ikada. Namun, karena alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Sukarno
di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta (sekarang Jalan Proklamasi
No. 1). Pada hari Jumat pukul 10.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945,
akhirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan.
Perbincangan mengenai dasar negara kembali dibicara-
kan pada Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945. PPKI
bersidang untuk menentukan dan menegaskan posisi bangsa
Indonesia dari semula bangsa terjajah menjadi bangsa yang
merdeka. PPKI yang semula merupakan badan buatan
pemerintah Jepang, sejak saat itu dianggap mandiri sebagai
badan nasional. Atas prakarsa Sukarno, anggota PPKI
ditambah enam orang lagi agar lebih mewakili seluruh
komponen bangsa Indonesia. Mereka adalah Wiranata-
kusumah, Ki Hajar Dewantara, Kasman Singodimejo, Sayuti
Melik, Iwa Koesoema Soemantri, dan Achmad Soebardjo.
Rancangan Pembukaan UUD (Piagam Jakarta) masih
menjadi polemik di kalangan pendiri negara. Pengesahan
Pembukaan UUD mengalami proses yang cukup panjang.
Sebelum pengesahan, Mohammad Hatta terlebih dahulu
mengemukakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 sore
hari, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan, ada utusan
dari Indonesia bagian Timur yang menemuinya. Intinya,
rakyat Indonesia bagian Timur mengusulkan agar pada
alinea keempat pembukaan, di belakang kata Ketuhanan
yang berbunyi dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya dihapus.
Usul tersebut oleh Mohammad Hatta disampaikan Sumber: https://bit.ly/3MHJtNk, https://bit.ly/3NFczgB
Gambar 1.5 Naskah Proklamasi yang ditulis tangan (atas) dan
kepada beberapa tokoh sebelum sidang pleno PPKI, khu- diketik (bawah)
susnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam antara lain
kepada Ki Bagoes Hadikoesoemo, Kasman Singodimedjo,
dan Teuku Mohammad Hasan. Mohammad Hatta berpandangan bahwa
Islam tidak perlu menjadi dasar negara secara formal. Islam tetap menjadi
semangat dan dasar moral.
Mohammad Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam demi
persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, dengan pendekatan
secara terus-menerus dan demi persatuan dan kesatuan mengingat In-
donesia baru saja merdeka, akhirnya tokoh-tokoh Islam itu menerima
dicoretnya anak kalimat, “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya” di belakang kata Ketuhanan dan diganti
dengan “Yang Maha Esa”.
Bab I Menerapkan Sila-Sila Pancasila 9