Page 8 - Cikal Cerita rakyat dari DIY
P. 8
dibuat dari bahan perunggu, tetapi tetap bagus, karena dibuat dari besi yang
terpilih.”
“Iya, Ki,” sambut Ki Redi, adik Ki Mangli yang menjadi ketua Dusun
Hargamulya dengan senang, “melalui gamelan inilah kita masih dapat melihat
keindahan tari tledhek dan suara merdu dari gamelan kuno peninggalan
leluhur kita.”
“Belajar gamelan adalah belajar hidup bersama dengan penuh
kekeluargaan,” kata Ki Mangli.
“Tolong Ki Mangli, jelaskanlah pada yang muda-muda seperti saya
ini,” sahut seorang pemuda seperti mewakili teman-teman seusianya.
Sebelum menjawab pertanyaan pemuda itu, mata Ki Mangli diarahkan
kepada pemuda itu dan pemuda-pemuda lainnya. Ia seperti ingin menjajaki
hati dan pikiran para pemuda itu melalui sinar matanya. Walaupun malam
itu sinar dari ublik (semacam lampu) damar tidak seterang matahari di siang
hari, Ki Mangli dapat melihat hasrat dan keinginan para pemuda Dusun
Hargamulya itu.
“Ketahuilah, gamelan itu adalah musik yang membutuhkan
kebersamaan,” ujar Ki Mangli.
Penjelasan itu semakin mengusik rasa ingin tahu mereka yang ingin
mendengarkan keterangan dari Ki Mangli.
“Coba, apakah pernah kalian mendengar kendang dimainkan sendirian,
tanpa alat musik lainnya?” tanya Ki Mangli.
“Belum, Ki. Lucu dan tidak enak didengar,” jawab salah seorang
pemuda yang duduk di depan Ki Mangli.
“Kau benar. Belum pernah. Kendang di dalam gamelan pasti akan
diikuti alat-alat yang lain kalau dimainkan. Tujuannya tidak lain supaya
terdengar merdu. Demikian juga alat musik gamelan lainnya, harus ditabuh
bersama dengan yang lainnya.”
3