Page 5 - P17110213067_Intan Priamitha_1B_E-book anemia
P. 5
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Transisi masa kanak-kanak ke masa dewasa ditandai dengan adanya
perubahan biologis, kognitif, dan emosional disebut remaja (Indartanti &
Kartini, 2014). Remaja yang berusia 10-19 tahun merupakan usia yang
memiliki kerentanan terhadap masalah gizi, karena akan mengalami
perubahan secara hormonal dan berpengaruh pada perubahan fisik (Nova &
Yanti, 2018). Masalah gizi yang sering terjadi pada remaja yaitu anemia,
kurang energi kronik (KEK), dan gizi lebih (obesitas). Kurangnya
pengetahuan tentang gizi merupakan salah satu penyebab terjadinya masalah
gizi pada remaja. Pengetahuan gizi seseorang dapat dilihat dari pemahaman
tentang ilmu gizi, zat gizi, dan interaksi antara zat gizi terhadap status gizi
dan kesehatan (Nova & Yanti, 2018). Selain itu, Karena kurangnya
pengetahuan gizi, remaja tidak mengetahui makanan juga menjadi penyebab
dari masalah gizi apabila tidak diperhatikan. Masalah gizi yang terjadi pada
remaja biasanya terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara makanan
yang dikonsumsi dengan kebutuhan remaja (Alexander, 2020).
Anemia merupakan keadaan seseorang dimana kadar sel-sel darah
merah atau jumlah hemoglobin dalam tubuh berada dibawah batas normal
yang akan berakibat terjadinya masalah kesehatan apabila dibiarkan terus
menerus (Basith et al., 2017). Anemia sering terjadi terjadi pada remaja putri
dibandingkan pada remaja putra karena remaja putri setiap bulannya
mengalami siklus menstruasi sehingga terjadi pengurangan zat besi dalam
darah. Selain itu, pada masa remaja merupakan masa mencari jati diri
sehingga remaja putri lebih sering memperhatikan penampilan daripada
memperhatikan kesehatannya. Demi postur tubuh yang bagus, remaja putri
cenderung untuk melakukan diet dibandingkan remaja laki-laki sehingga
menyebabkan asupan zat gizi berkurang salah satunya adalah zat besi
(Indartanti & Kartini, 2014). Mengingat anemia sering terjadi pada remaja
1

