Page 183 - FIKIH_MTs_KELAS_ IX_KSKK_2020
P. 183

ketentuan  barang  yang  ditinggalkan  di  mana  barang  itu  merupakan  milik

                             sempurna dan pewaris benar-benar telah meninggal dunia.
                         c.  Ahli Waris

                             Ahli  waris  adalah  orang-orang  yang  berhak  mewarisi  karena  hubungan
                             kekerabatan  (nasab),  hubungan  pernikahan  dengan  pewaris  dan  beragama

                             Islam.

                     4.  Hal-hal yang harus diselesaikan sebelum pembagian waris
                         a.  Biaya perawatan jenazah, meliputi biaya menggali kubur, pembelian kain kafan,

                             pengangkutan dan juga termasuk sewa kuburan bagi yang tinggal di kota besar.

                         b.  Melunasi  hutang  piutangnya,  seorang  muslim  yang  masih  mempunyai
                             tanggungan hutang sampai ia meninggal, maka ahli waris memiliki kewajiban

                             untuk menyelesaikan hutangnya dengan harta peninggalan. Jika tidak memiliki
                             harta, maka hal itu tetap menjadi kewajiban ahli waris.

                         c.  Membagi  harta  waris  kepada  yang  berhak,  setelah  semua  urusan  di  atas

                             diselesaikan,  jika  masih  tersisa  harta  waris,  maka  pembagian  harta  waris
                             tersebut harus di atur menurut faraid (hukum waris) dengan penuh persaudaraan

                             dan  bijaksana.  Jika  ahli  waris  sudah  dewasa  hendaknya  diselesaikan
                             pembagaiannya sampai tuntas. Namun, jika ada yang masih kecil, maka harta

                             tersebut dikuasakan kepada orang yang sudah dewasa dan amanah.


                     5.  Sebab-sebab menerima dan tidak menerima Harta Waris
                         a.  Sebab-sebab menerima harta warisan antara lain:

                             1)  Hubungan keturunan (nasab).
                                 Yakni hubungan  karena proses  kelahiran  anak  seperti anak, cucu,  bapak,

                                 ibu dan sebagainya.

                             2)  Hubungan perkawinan (nikah), yaitu suami atau isteri.
                                 Hubungan atas dasar pernikahan dimana suami berhak menjadi ahli waris

                                 dari istri yang meninggal dan sebaliknya.

                             3)  Hubungan memerdekaan budak (wala’).
                                 Yakni  hubungan  disebabkan  pembebasan  budak  oleh  tuannya  di  mana

                                 budak yang dimerdekakan bisa mewarisi tuannya dan sebaliknya.
                             4)  Hubungan agama.



                                                      FIKIH MADRASAH TSANAWIYAH KELAS IX 167
   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188