Page 39 - USHUL FIKIH_INDONESIA_MAPK_KELAS XII_KSKK
P. 39

PRAWACANA



                       Dalam  menjalankan  kehidupan  ini  masalah  keagamaan  akan  berkembang  terus.

               Perkembangan itu sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Masalah yang dulu di

               zaman Nabi, Sahabat dan para tabi’in belum ada, sekarang muncul dan akan demikian terus.
               Karena  itu  untuk  mengamalkan  ajaran  islam  dalam  kehidupan  sehari-hari  perlu  ijtihad.

               Namun  demikian  tidak  sembarang  orang  bisa  melakukannya.  Permasalahannya,  tidak

               banyak orang yang dapat melakukan ijtihad dan memiliki kesempurnaan dalam memenuhi
               kreteria  ijtihad.  Oleh  karena  itu  untuk  melakukan  ijtihad  seseorang  harus  mencukupi

               persyaratannya. Bagi orang awam dalam beragama cukuplah dengan  ittiba’, taqlid kepada
               para mujtahid. Yaitu beragama dengan pola bermadzhab. Hal ini lebih aman. Asalkan tidak

               sampai  melakukan  talfiq.Pelaksanaan  ibadah  kepada  Allah  yang  dilakukan  oleh  para
               hambanya kadang   berbeda  antara satu dengan yang lain. Yakni yang berhubungan dengan

               ketetapan hukum.

                       Salah  satu  penyebabnya  adalah  karena  adanya  perbedaan  kemampuan  manusia
               dalam memahami hukum itu sendiri. Dalam bab ini akan dibahas berbagai hal tersebut yakni

               mulai  ijtihad,  ijma’, qiyas, istihsan, masalahah mursalah, ‘urf, istishab, syadd al-dzariah
               dan syar’u man qablana. Dengan kejelasan pemahaman tentang hal-hal tersebut diharapkan

               kita bisa mengukur diri, menentukan posisi dan menentukan tidakan dalam pola kehidupan
               beragama. Sehingga berada dalam kebenaran dan diridloi Allah swt.




               MATERI PEMBELAJARAN


               A.  Pengertian Ijtihad

                                                                                                     َ
                          Ijtihâd  (داهتجلإا)  diambil  dari  akar  kata  dalam  bahasa  Arab  “jahada”  (دهج).
                   Bentuk kata mashdar-nyaada dua bentuk yang berbeda artinya: pertama, jahdun (َ ٌدْهَج)

                   dengan arti kesungguhan atau sepenuh hati atau serius. Contohnya dapat kita temukan

                   dalam surat al-An‘am (6): 109:
                                                                                                       َۡ
                                                                                       َ
                         ۡ
                                                                                                  ْ
                             َ َ ِلِلٱََدنِعَ ُتَيلْٱَامَّنإَلقَاهبََّنُنِم ۡ ؤُيلَةَياءَ ۡ مُهتء اَجَنِئلَمهِن
                   َ ۡ مُك ُ رِعشُيَاموََِّۖ     ۡ  َ ِ  ۡ ُ ۚ  َ ِ  َّ ٞ  َ  ۡ  َ  َ  َ  مۡيأََد ۡهَجَِ َّ لِلٱبَاوُمَسقأو
                                                                                                ِ
                                                                                                         َ
                                                                                     َ ۡ ِ
                                                                                             ۡ
                                                                              َ ََ.نوُنِم ۡ ؤُيَ َ لََّتء اَجَاَذإَ اهَّنأ َ
                                                                                                     ِ َ
                                                                                               َ
                                                                           USHUL FIKIH  -  KELAS XII 30
   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44