Page 21 - Buku Jejak Imam Utomo
P. 21

menjadi pemimpin yang “tidak pandai pidato”. Dia lebih suka menjadi orang
                           yang “sedikit bicara banyak mendengar.”   Betapa selama kepemimpinannya dia
                           dikenal sebagai jenderal sahabat wartawan, lebih sipil dibanding pejabat sipil,
                           detail berikan instruksi dan nguwongno orang, juga kepeduliannya terhadap

                           masyarakat  kecil yang  tinggal  di desa apalagi  yang  menjadi korban  bencana
                           alam.
                                  Pada Bab  Keempat, banyak diceritakan “Kisah-kisah Manusiawi” dari
                           sosok Imam Utomo. Misalnya saja pascalengser dari gubernur dia lebih memilih

                           mengabdi di PMI dan Yayasan yang mengurusi para lansia. Begitu juga bagaimana
                           kepeduliannya terhadap sesama dan terhadap seni budaya, suka kulineran dan
                           berbagi rejeki, suka berkebun hingga membangun kawasan agrowisata. Imam
                           Utomo yang sepintas terlihat keras dan pendiam ternyata “Enak Buat Berteman”

                           sebagaimana testimoni Suryadi, kolega sesama militer.  Yang kemudian orang
                           tidak banyak tahu, ternyata Imam Utomo pernah berstatus atlet beberapa cabang
                           olahraga.
                                  Dalam bab ini juga dihadirkan kisah-kisah manusiawi saat Imam menjadi

                           Gubernur Jatim, yaitu kisah sederhana ketika Imam Utomo menemukan cincin
                           berlian di tempat sampah. Betapa mantan Pangdam Brawijaya itu tetap bersahaja,
                           tidak  berambisi  apapun,  dan  tetap  merawat  kebahagiaan  pada  usia  senja.  Di
                           Masjid Nurul Iman yang diprakarsainya, mayor jenderal purnawirawan ini lebih

                           menyibukkan dirinya dalam  salat subuh berjamaah dan  merawat komunitas
                           tersendiri. Betapa dalam komunitas ini seorang Wakil Bupati Pamekasan, Fattah
                           Jasin, tetap setia menyiapkan kopi setiap hari Minggu pagi buat Pak Imam dan
                           jamaah lainnya. Bagi Fattah, figur mantan gubernur ini adalah orang yang paling

                           berjasa  mengantar  hidupnya  menjadi  seperti  sekarang.  Dalam  suka  maupun
                           duka, Imam tetap berada di dekat dan mendukung cita-citanya.
                                  Ada kisah tersendiri bagaimana rasa toleransi dapat berkembang subur
                           di  komunitas  ini.  Bahkan  seorang  Imam  Utomo  yang  masih  disegani  banyak

                           kalangan ini tidak merasa gengsi ikut pelatihan salat.
   16   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26