Page 101 - Kelas_12_SMA_Sejarah_Indonesia_Semester_1_Siswa_2016
P. 101

Presiden Soekarno dalam pidatonya tanggal 30 September 1960 di depan
                 Sidang Majelis  Umum    PBB menegaskan kembali     sikapnya  tentang upaya
                 mengembalikan Irian Barat   ke  pangkuan RI.  Dalam   pidato yang berjudul
                 Membangun Dunia Kembali,  Soekarno menegaskan bahwa:

                     “Kami  telah berusaha untuk  menyelesaikan masalah Irian Barat. Kami
                     telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kesabaran dan
                     penuh toleransi  dan penuh harapan. Kami  telah berusaha untuk  mengadakan
                     perundingan-perundingan bilateral.... Harapan lenyap, kesabaran hilang;
                     bahkan toleransi pun mencapai batasnya.  Semuanya itu kini telah habis  dan
                     Belanda tidak memberikan alternatif lainnya, kecuali memperkeras sikap kami.”
                     (Sketsa Perjalanan Bangsa Berdemokrasi, Depkominfo, 2005)



                     Pidato Presiden Soekarno itu, membawa dampak kepada dibuka kembalinya
                 perdebatan Irian Barat di PBB. Usulan yang muncul dari perdebatan itu adalah
                 agar pihak Belanda  menyerahkan kedaulatan Irian Barat    kepada  Republik
                 Indonesia. Penyerahan ini  dilakukan melalui  PBB dalam  waktu dua  tahun.
                 Usulan ini  datang dari  wakil  Amerika  Serika  di  PBB, Ellsworth Bunker.
                 Usulan itu secara prinsip disetujui oleh Pemerintah Indonesia namun dengan
                 waktu yang lebih singkat. Sedangkan pemerintah Belanda lebih menginginkan
                 membentuk negara   Papua  terlebih dahulu.  Keinginan pemerintah Belanda
                 ini  disikapi  Presiden Soekarno dengan “Politik Konfrontasi  disertai  dengan
                 uluran tangan. Palu godam disertai dengan ajakan bersahabat”.
                     Setelah upaya   merebut  kembali  Irian Barat  dengan diplomasi    dan
                 konfrontasi  politik dan ekonomi    tidak berhasil, maka   pemerintah RI
                 menempuh cara    lainnya  melalui  jalur konfrontasi  militer. Dalam  rangka
                 persiapan kekuatan militer untuk merebut kembali Irian Barat, pemerintah RI
                 mencari  bantuan senjata  ke  luar negeri. Pada  awalnya  usaha  ini  dilakukan
                 kepada negara-negara Blok Barat, khususnya Amerika Serikat, namun tidak
                 membawa hasil yang memuaskan. Kemudian upaya ini dialihkan ke negara-
                 negara Blok Timur (komunis), terutama ke Uni Soviet.

                     Belanda  mulai  menyadari  bahwa  jika  Irian Barat  tidak diserahkan ke
                 Indonesia  secara  damai, maka  Indonesia  akan menempuh dengan kekuatan
                 militer.  Melihat   perkembangan persiapan militer Indonesia, Belanda
                 mengajukan nota   protes  kepada  PBB bahwa    Indonesia  akan melakukan
                 agresi. Belanda kemudian memperkuat kedudukannya di Irian Barat dengan
                 mendatangkan bantuan dengan mengerahkan kapal       perangnya  ke  perairan
                 Irian, di antaranya adalah kapal induk Karel Doorman.







                                                                        Sejarah Indonesia         93
   96   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106