Page 121 - Kelas_12_SMA_Sejarah_Indonesia_Semester_1_Siswa_2016
P. 121

Sementara  itu, sebuah kabinet  baru telah terbentuk  dan diberi  nama
                 Kabinet Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Kabinet tersebut diresmikan
                 pada  28 Juli  1966. Kabinet  ini  mempunyai  tugas  pokok untuk menciptakan
                 stabilitas  politik dan ekonomi. Program  kabinet  tersebut  antara  lain adalah
                 memperbaiki kehidupan rakyat, terutama di bidang sandang dan pangan, dan
                 melaksanakan pemilihan umum     sesuai  dengan Ketetapan MPR RI No. XI/
                 MPRS/1966. Sesuai dengan UUD 1945, Presiden Soekarno adalah pemimpin
                 Kabinet. Akan tetapi  pelaksanaan pimpinan pemerintahan dan tugas   harian
                 dilakukan oleh Presidium    Kabinet  yang diketuai  oleh Letnan Jenderal
                 Soeharto.

                     Sehubungan dengan permasalahan yang ditimbulkan oleh “Pelengkap
                 Nawaksara”   dan bertambah gawatnya     keadaan politik pada   9 Februari
                 1967 DPR-GR mengajukan resolusi     dan memorandum     kepada  MPRS   agar
                 mengadakan Sidang Istimewa. Sementara itu, usaha-usaha untuk menenangkan
                 keadaan berjalan terus. Untuk itu pimpinan ABRI mengadakan pendekatan
                 pribadi  kepada  Presiden Soekarno agar ia  menyerahkan kekuasaan kepada
                 pengemban ketetapan MPRS RI No. IX/MPRS/1966, yaitu Jenderal Soeharto
                 sebelum   Sidang Umum     MPRS. Hal    ini  untuk mencegah perpecahan di
                 kalangan rakyat dan untuk menyelamatkan lembaga kepresidenan dan pribadi
                 Presiden Soekarno.

                     Salah seorang sahabat Soekarno, Mr. Hardi, menemui Presiden Soekarno
                 dan memohon agar Presiden Soekarno membuka prakarsa untuk mengakhiri
                 dualisme  kepemimpinan negara, karena      dualisme  kepemimpinan inilah
                 ya  menjadi  sumbe  konli  politi  ya  tida  kunj  berhenti  Mr  Hardi

                 menyarankan agar    Soekarno sebagai  mandataris  MPRS, menyatakan non
                 aktif di depan sidang Badan Pekerja MPRS dan menyetujui pembubaran PKI.
                 Presiden Soekarno menyetujui saran Mr. Hardi. Untuk itu disusunlah “Surat
                 Penugasan mengenai   Pimpinan Pemerintahan Sehari-hari   kepada  Pemegang
                 Surat Perintah 11 Maret 1966.
                     Kemudian, Presiden menulis nota pribadi kepada Jenderal Soeharto. Pada
                 7 Februari  1967, Mr. Hardi  menemui  Jenderal  Soeharto dan menyerahkan
                 konsep tersebut. Pada  8 Februari  1967, Soeharto membahas  surat  Presiden
                 bersama  keempat  Panglima  Angkatan. Para  panglima  berkesimpulan bahwa
                 draft surat tersebut tidak dapat diterima karena bentuk surat penugasan tersebut
                 tidak membantu menyelesaikan situasi konlik. Kesimpulan itu disampaikan
                 Soeharto kepada   Presiden Soekarno pada     10 Februari   1967. Presiden
                 menanyakan kemungkinan mana      yang terbaik. Soeharto mengajukan draft
                 berisi pernyataan bahwa Presiden berhalangan atau menyerahkan kekuasaan
                 kepada  Pengemban Surat   Perintah 11 Maret  1966. Pada  awalnya  Presiden




                                                                        Sejarah Indonesia
                                                                                            113
   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125   126