Page 294 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 294
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING KOPERASI SUSU DENGAN
PENDEKATAN BALANCED SCORECARD
Neza Fadia Rayesa
Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya,
Malang
Korespondensi Penulis: Neza Fadia Rayesa, nezafadia@gmail.com
Abstrak
Koperasi susu memegang peranan penting dalam peningkatan produksi susu segar dan peningkatan
kesejahteraan peternak sapi perah di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sebagai badan usaha yang
bertujuan meningkatkan pendapatan, koperasi susu harus mampu meningkatkan daya saing agar
dapat bertahan di tengah persaingan usaha peternakan sapi perah. Peningkatan kinerja diharapkan
dapat mendorong peningkatan daya saing koperasi menjadi lebih baik, khususnya pada faktor-faktor
kunci yang menentukan daya saing koperasi. Penelitian bertujuan untuk merumuskan strategi
bersaing pada Koperasi Warna Mulya Kabupaten Sleman melalui pendekatan Balance Scorecard
(BSC). BSC digunakan untuk menganalisis kinerja internal koperasi. Indikator kinerja yang
dirumuskan bersama key informan koperasi kemudian digunakan untuk meninjau kekuatan dan
kelemahan koperasi. Perumusan strategi dilakukan menggunakan analisis SWOT. Dilihat dari posisi
faktor internal dan eksternal. diketahui posisi koperasi berada pada kuadran IV antara kelemahan
(weakness) dan ancaman (threats). Strategi yang dirumuskan adalah meningkatkan efisiensi di segala
bidang, mengadakan kontrak kerjasama dengan industri pengolahan susu (IPS), meningkatkan promosi
melalui kerjasama dengan instansi terkait, serta meningkatkan pengetahuan terhadap teknologi
pengolahan susu.
Kata Kunci : Strategi, Balanced Scorecard, SWOT, Koperasi Susu
1. Pendahuluan
Upaya peningkatan produksi susu dan kesejahteraan peternak sapi perah di
Indonesia tidak terlepas dari keberadaan dan peran serta lembaga koperasi yang menjadi
wadah bagi pengembangan usaha peternakan rakyat dan biasanya terdapat di daerah-
daerah sentra usaha sapi perah. Swastika et al (2005) menyebutkan sekitar 64%
produksi susu nasional disumbangkan oleh usaha ternak sapi perah skala kecil yang
umumnya tergabung dalam koperasi. Selebihnya sebesar 28% produksi susu
dikontribusikan oleh usaha menengah dan 8% diproduksi oleh ternak skala besar.
Koperasi juga bertindak sebagai mediator antara peternak dengan Industri
Pengolahan Susu (IPS). Koperasi sangat menentukan posisi tawar peternak dalam
menentukan jumlah penjualan susu, waktu penjualan, dan harga yang diterima peternak.
Mengingat hal tersebut, koperasi memiliki peranan yang penting dalam rantai nilai
komoditas susu dan keberlanjutan industri persusuan di Indonesia.
Kabupaten Sleman merupakan salah satu sentra produksi susu sapi yang memberikan
pasokan susu segar kepada PT. Sari Husada. Dengan kondisi geografis dataran tinggi dan
iklim yang sesuai, Kabupaten Sleman sangat potensial sebagai lokasi peternakan sapi
perah dan telah memberikan kontribusi terbesar dalam industri persusuan di DI
Yogyakarta. Salah satu koperasi di Kabupaten Sleman adalah Koperasi Warga Mulya. Dalam
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 283

