Page 153 - kumpulan jurnal integrasi Kelas A
P. 153

Daun sirsak merupakan bagian yang banyak mengandung senyawa di antaranya acetogenins,
            annocatin,  annocatalin,  annohexocin,  annonacin,  annomuricin,  annomurine,  ananol,  caclourine,
            gentisic acid, gigantetronin, linoleic acid, serta muricapentocin, tanin, fitosterol, kalsium oksalat,
            alkaloid murisin, monotetrahidrofuran. Di samping kandungan berbagai macam senyawa tersebut,
            daun sirsak juga mengandung senyawa flavonoid. Flavonoid termasuk senyawa fenolik alam yang
            berpotensi sebagai antioksidan dan mempunyai bioaktivitas sebagai obat. Antioksidan yang terdapat
            pada daun sirsak dapat mengurangi terbentuknya asam urat melalui penghambatan produksi enzim
            xantin  oksidase.  Flavonoid  juga  memiliki  mekanisme  mirip  dengan  allopurinol,  yaitu  dengan
            menghambat enzim xantin oksidase yang berperan dalam proses perubahan hypoxantin menjadi
            xantin dan akhirnya menjadi asam urat. (Utama,2017) Tanaman  sirsak merupakan tanaman yang
            kaya  akan  antioksidan,  yaitu  suatu  molekul  yang  dapat  memperlambat  atau  mencegah  proses
            oksidasi  dari  molekul  lain.  Tanaman  Sirsak  (annona muricata  linn)  termasuk  tanaman  dengan
            klasifikasi sebagai berikut:
            Kingdom                : Plantae
            Divisi                 : Spermatophyta
            Kelas                  : Dycotiledoneae
            Ordo                   : Ranunculales
            Famili                 : Annonaceae
            Genus                  : Annona
            Spesies                : Annona Muricata L.
                    Di  dalam  daun  sirsak  terdapat  kandungan  asetogenin  yang  bersifat  antioksidan  danjuga
            senyawa flavonoid. Flavonoid termasuk senyawa yang bersifat sebagai antioksidan dan mempunyai
            bioaktivitas sebagai obat. Sifat antioksidan yang terdapat pada daun sirsak tersebut menghambat
            produksi  enzim  xantin  oksidase  yang  dapat  mengurangi  terbentuknya  asam  urat  (Wijaya  et  al.,
            2014).
                    Sintesis asam urat dimulai dari terbentuknya 5-phosphoribosyl-1-pirophosphat (PRPP) dari
            ribose 5-fosfat yang disintesis dengan ATP dan merupakan sumber gugus ribosa. PRPP bereaksi
            dengan  glutamin  membentuk  fosforibosilamin.  Reaksi  tersebut  dikatalisis  oleh  PRPP  glutamil
            amidotranferase,  yaitu  suatu  enzim  yang  dihambat  oleh  inosinemonophosphat  (IMP),  adenine
            monophosphat (AMP), dan guanine monophosphat (GMP), yang juga menghambat sintesis PRPP
            yang menyebabkan lambatnya produksi nukleotida purin. Inosine-monophosphat (IMP) mengandung
            basa  hipoxanthine.  IMP  berfungsi  sebagai  titik  cabang  dari  nukleotida  adenin  dan  guanin.
            Penambahan  satu  gugus  amino  aspartat  ke  karbon  enam  cincin  purin  membentuk  AMP.
            Guanosinemonophosphat (GMP) berasal dari IMP melalui pemindahan satu gugus amino dari amino
            glutamin ke karbon dua cincin purin. Inosinemonophosphat (IMP) dan GMP akan menjadi inosin dan
            guanosin melalui proses defosforilasi. AMP menjadi inosin dengan deaminasi. Basa hipoxanthine
            pada IMP akan mengalami oksidasi dengan bantuan xhantine oxsidase menjadi xhantine, guanin juga
            akan mengalami deaminasi menghasilkan xhantine. Selanjutnya xhantine akan diubah oleh xhantine
            oxsidase menjadi asam urat (Sangging,2017).
                    Hiperurisemia adalah keadaan dimana kadar kristal monosodium urat monohidrat di dalam
            darah  berlebih.  Kelebihan  kadar  asam  urat  tersebut  bisa  dikarenakan  kelebihan produksi (over
            production)  ataupun  karena  penurunan  ekskresi  asam  urat  melalui  urin  (under  excretion)  atau
            gabungan dari kedua penyebab diatas.
                    Risiko seorang wanita mengalami hiperurisemia meningkat setelah masa menopause. Hal
            itu disebabkan karena pada wanita menopause sudah tidak ada hormon estrogen yang berperan
            membantu proses pembuangan asam urat dalam ginjal.  Saat wanita mengalami menopause maka
            resiko terkena hiperurisemia akan menjadi sama dengan pria.
                    Menurut WHO tahun 2018 sekitar 335 juta orang di dunia ini mengalami penyakit gout
            (Bobaya, Bidjuni & Kallo, 2016). Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) hasil diagnosis
            tenaga  kesehatan  di  Indonesia  menyatakan  bahwa  prevalensi  hiperurisemia adalah  11,9%  dan
            berdasarkan gejala adalah sebesar 24,7%. Pada saat ini prevalensi gout arthritis terus bertambah
                                                                                                         148
   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158