Page 50 - C:\Users\ASUS-PC\Downloads\BUKU ETNOSAINS\
P. 50

atau  ritual  daripada  oleh  ketepatan  waktu  yang  matematis.  Sebagai  contoh


        dalam  masyarakat  Bugis  di  Sulawesi  Selatan,  pemahaman  tentang  waktu

        sangat erat kaitannya dengan siklus alam dan kegiatan sehari-hari. Misalnya,

        masyarakat Bugis menggunakan tanda-tanda alam seperti posisi matahari dan


        bintang-bintang untuk menentukan waktu bercocok tanam, memancing, atau

        mengadakan upacara adat. Sistem kalender tradisional mereka, yang seringkali

        tidak sesuai dengan kalender Gregorian,  mencerminkan konsep waktu yang

        lebih fleksibel dan kontekstual.

               Contoh nyata dari hal ini adalah upacara adat “Mappalili,” sebuah ritual


        yang  dilakukan  untuk  menandai  dimulainya  musim  tanam  padi.  Waktu

        pelaksanaan Mappalili tidak ditentukan oleh tanggal kalender yang tetap, tetapi

        oleh kondisi alam seperti posisi bintang tertentu atau fase bulan. Pendekatan

        ini menunjukkan bahwa masyarakat Bugis memahami waktu sebagai sesuatu


        yang relatif, yang ditentukan oleh konteks alam dan kebutuhan sosial, bukan

        oleh standar waktu yang kaku.

               Dalam  perspektif  fisika  modern,  konsep  relativitas  waktu  yang

        diperkenalkan oleh Einstein menyatakan bahwa waktu tidak bersifat absolut dan


        dapat bervariasi tergantung pada kerangka referensi pengamat. Hal ini sejalan

        dengan cara masyarakat Bugis mengatur waktu mereka. Mereka melihat waktu

        bukan sebagai sesuatu yang linier dan tetap, tetapi sebagai fenomena yang

        dapat berubah sesuai dengan kondisi alam dan keperluan sosial.

               Misalnya,  dalam  kehidupan  sehari-hari,  masyarakat  Bugis  sering


        menggunakan istilah seperti “wettu lolo” (waktu pagi),  “wettu tengah” (waktu

        siang), dan “wettu malam” (waktu malam) yang tidak merujuk pada jam tertentu,

        tetapi pada kondisi cahaya dan aktivitas alam. Ini mencerminkan pemahaman

        bahwa waktu lebih bersifat subyektif dan bergantung pada pengamatan individu


        dan kebutuhan komunitas.

               Dengan  demikian,  pemahaman  waktu  dalam  masyarakat  Bugis  dapat

        dilihat  sebagai  refleksi  dari  prinsip-prinsip  relativitas  waktu.  Melalui  praktik

        etnosains ini, mereka menunjukkan bahwa waktu dapat dilihat sebagai entitas
   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55