Page 6 - Al-Qur'an-Juz 'Amma dan Terjemahnya Beserta Audio Book-nya
P. 6

VI

                       Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama, ahli dan akade-
                misi  yang  memiliki  kompetensi  di  bidangnya  merupakan  wujud  keterbukaan  Kementerian
                Agama terhadap saran dan kritik konstruktif bagi perbaikan dan penyempurnaan Al-Qur’an
                dan Terjemahannya. Upaya itu juga didasari pada kesadaran bahwa tidak ada karya manusia
                yang sempurna, apalagi ketika akal manusia yang terbatas  ingin menjangkau pesan kalam
                Tuhan yang tidak terbatas.
                Metode dan Prinsip Penerjemahan
                       Penerjemahan  Al-Qur’an  pada  dasarnya  berorientasi  pada  bahasa  sumber
                (bahasa  Arab).  Metode  penerjemahan  yang  digunakan  sama  dengan  yang  digariskan
                oleh  penyusun  terjemahan  edisi  pertama  yaitu  ‘terjemahan  setia’  dalam  artian  sedapat
                mungkin  mempertahankan  atau  setia  pada  isi  dan  bentuk  bahasa  sumber  (BSu).  Lafal
                yang  bisa  diterjemahkan  secara  harfiyah,  diterjemahkan  secara  harfiyah.  Sedangkan
                yang tidak, diterjemahkan secara tafsiriyah, baik dalam bentuk pemberian catatan kaki
                maupun tambahan penjelasan di dalam kurung. Dalam kata pengantar ketua Lembaga
                Penjelenggara Penterdjemah Kitab Sutji Al-Quraan, Prof. R.H.A. Soenarjo, SH., pada Al-
                Qur’an dan Terjemahnya terbitan Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an
                (1969) disebutkan: “Terdjemahan dilakukan seleterlijk (seharfijah) mungkin. Apabila dengan
                tjara  demikian  terdjemahan  tidak  dimengerti,  maka  baru  ditjari  djalan  lain  untuk  dapat
                difahami dengan menambah kata-kata dalam kurung atau diberi not. Apabila mengenai
                sesuatu kata ada dua pendapat, maka kedua pendapat itu dikemukakan dalam not.”
                       Ada beberapa prinsip penerjemahan yang dijadikan acuan dalam penyusunan
                Terjemahan Al-Qur’an Edisi Penyempurnaan ini:

                       1.  Ejaan  dalam  penulisan  teks  terjemahan  didasarkan  pada  Pedoman  Umum
                           Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang disusun oleh Badan Pengembangan dan
                           Pembinaan Bahasa sebagaimana ditetapkan melalui Permendikbud No. 50
                           Tahun 2015. PUEBI mengatur empat hal, yaitu pemakaian huruf, penulisan kata,
                           pemakaian tanda baca, dan penulisan unsur serapan.
                       2.  Struktur  kalimat  dalam  teks  terjemahan  sedapat  mungkin  disusun  dalam
                           struktur  kalimat  bahasa  Indonesia  yang  baku.  Jika  ada  bagian  kalimat  yang
                           dipentingkan, struktur kalimat dapat disesuaikan sejauh tidak menyebabkan
                           kesalahpahaman dalam membaca. Contoh: wa lahū man fis samāwāti wa al-arḍi
                           ‘milik-Nyalah apa yang ada di langit dan di bumi’ adalah struktur kalimat yang
                           sebenarnya kurang lazim. Seharusnya kalimat terjemahannya menjadi ‘apa yang
                           ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya’. Akan tetapi, karena ada penekanan
                           pada pelaku atau pemilik, kalimat tersebut diterjemahkan sesuai struktur
                           kalimat dalam teks sumbernya.

                       3.  Kata penghubung ‘dan’ di permulaan terjemahan ayat dihilangkan, kecuali jika
                           masih terhubung secara langsung dengan ayat sebelumnya. Selain tidak sejalan
                           dengan kaidah bahasa Indonesia, penerjemahan huruf ‘waw’ selalu bermakna
                           ‘dan’ tidak sesuai dengan keragaman makna ‘waw’ dalam bahasa Arab (‘ma‘āni
                           al-ḥurūf).

                       4.  Sedapat mungkin konsisten dalam menerjemahkan huruf, kata dan kalimat
                           dengan tetap memperhatikan konteks penyebutannya. Bentuk verba aktif
                           dan  pasif  sedapat  mungkin  dipertahankan  sejauh  tidak  menimbulkan  ke sa-
                           lahpahaman dalam membaca. Jika kalimat dalam teks sumber terlalu panjang,
   1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11