Page 7 - Al-Qur'an-Juz 'Amma dan Terjemahnya Beserta Audio Book-nya
P. 7

VII

                           teks terjemahan dapat dipecah ke dalam beberapa kalimat sejauh hal tersebut
                           tidak mengurangi maknanya.
                       5.  Penyebutan  nama-nama  nabi  tidak  didahului  kata  ‘nabi’  dan  setelahnya  ‘as.’,
                           kecuali untuk Nabi Muhammad, (tanpa ‘saw.’).

                       6.  Penerjemahan idiom atau metafora yang sangat asing atau tidak lazim dalam
                           bahasa Indonesia apabila diterjemahkan secara langsung kurang dipahami,
                           maka akan diterjemahkan sesuai dengan bahasa yang mudah dipahami dalam
                           bahasa Indonesia. Seperti penerjemahan kata dalam surah az-Zukhruf ayat 17;
                           ẓalla wajhuhū muswaddan (jadilah wajahnya merah padam). Kata muswaddan,
                           sesuai makna aslinya berarti hitam pekat. Istilah hitam pekat dalam bahasa
                           Indonesia kurang dipahami sehingga diganti dengan kata merah padam.

                       7.  Penerjemahan ayat-ayat mutasyabihat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah,
                           baik sifat zat (ṣifāt żātiyyah) maupun sifat perbuatan (ṣifāt fi’liyyah) menggunakan
                           pendekatan tafwīḍ dan ta’wīl.
                       8.  Ketika  kalimat  mutasyabihat  secara  terang  menunjukkan  sifat  Allah,  makna
                           tafwīḍ dikedepankan. Contoh: fa ṡamma wajhullāh (wajah Allah).

                       9.  Ketika  kalimat  mutasyabihat  tidak  secara  terang  menunjukkan  sifat  Allah,
                           makna takwil dikedepankan. Contoh: yurīdūna wajhallāh (keridaan Allah).
                       10.  Apabila kalimat mutasyabihat tidak bisa diterjemahkan dengan satu pendekatan,
                           maka kedua pendekatan tersebut diakomodasi. Yakni menerjemahkan makna
                           secara tafwīḍ dan menyisipkan makna takwil, (penjelasan dalam kurung dan
                           atau di dalam catatan kaki).
                       Al-Qur’an  dan  terjemahannya  pada  dasarnya  adalah  upaya  pengalihan  bahasa
                Al-Qur’an  kedalam  bahasa  Indonesia  yang  tidak  mungkin  sepenuhnya  menjelaskan
                maksud kandungan Al-Qur’an. Terjemahan Al-Qur’an hanyalah sebuah hasil pemahaman
                penerjemah dengan segala keterbatasannya dan kesan yang ditangkapnya dari Firman
                Allah. Bagaimanapun bagusnya, terjemahan Al-Qur’an tetap bukanlah Al-Qur’an. Berbeda
                dengan teks Al-Qur’an yang tidak pernah berubah, terjemahan Al-Qur’an terbuka untuk
                disempurnakan seiring perkembangan bahasa Indonesia dan dinamika kehidupan
                masyarakat.
                       Tentu tidak ada karya yang sempurna. Oleh karenanya saran dan kritik konstruktif
                dari  pembaca  sangat  diharapkan  demi  kesempurnaan  Terjemahan  Al-Qur’an  edisi
                penyempurnaan ini.
   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12