Page 53 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 1 OKTOBER 2021
P. 53
Ringkasan
Para buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menuntut upah
di 2022 naik 7 persen sampai 10 persen. Tuntutan ini diajukan di tengah pandemi Covid-19 yang
belum jelas kapan berakhirnya. Namun, buruh beranggapan bahwa tuntutan kenaikan upah di
2022 ini justru untuk membantu pemerintah. Dengan kenaikan ini maka bisa mendorong
pertumbuhan ekonomi sesuai dengan target pemerintah.
HEADLINE: BURUH TUNTUT UPAH MINIMUM 2022 NAIK 10 PERSEN, REALISTIS
SAAT KONDISI PANDEMI?
Jakarta - Para buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)
menuntut upah di 2022 naik 7 persen sampai 10 persen. Tuntutan ini diajukan di tengah pandemi
Covid-19 yang belum jelas kapan berakhirnya.
Namun, buruh beranggapan bahwa tuntutan kenaikan upah di 2022 ini justru untuk membantu
pemerintah. Dengan kenaikan ini maka bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dengan
target pemerintah.
Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan, kebijakan upah buruh sangat erat kaitannya dengan daya
beli masyarakat. Apabila kenaikan upah tidak tercapai, dia sangsi target pertumbuhan ekonomi
5,2 persen di 2022 yang dicanangkan pemerintah bisa tergapai.
"Dengan daya beli turun konsumsi menurun kan. Kalau konsumsi turun pasti pertumbuhan
ekonomi tidak sesuai harapan seperti yang ditargetkan pemerintah dong," ujar Iqbal kepada
Liputan6.com, Kamis (30/9/2021).
Iqbal lantas memposisikan kaum buruh sebagai kelompok masyarakat menengah bawah, yang
sulit menabung dan cenderung menghabiskan seluruh pendapatannya untuk konsumsi.
"Yang namanya buruh, uang enggak mungkin ditabung. Kita tahu sendiri, begitu dapat gaji abis
enggak tuh duit? Abis," ungkap dia.
Menurut dia, konsumsi kaum buruh memainkan peran penting dalam roda perekonomian
nasional. Jika sektor konsumsi bisa terangkat, secara otomatis itu akan berpengaruh terhadap
permintaan produksi.
"Kalau konsumsi naik, produksi barang kan naik. Misal gini, upah saya Rp 1 juta, beli Indomie
dua. Terus upah saya naik Rp 1,2 juta, pasti saya beli tiga atau empat Indomie," tuturnya.
"Pabrik indomie produksi pasti naik. Kalau produksi Indomie naik, pabrik tepung produksinya
naik. Jadi ada mata rantai produksi, enggak bisa lepas," kata dia.
Namun, Iqbal menyayangkan kebijakan pemerintah yang saat ini lebih gencar terhadap
pemasukan investasi ketimbang peningkatan konsumsi dan kesejahteraan buruh.
"Cuman kita masih enggak percaya yang kayak gitu-gitu, masih senengnya investasi, investasi.
Padahal China, Brazil, selain kekuatan investasinya kuat, dia konsumsi," tegas Iqbal.
Turun ke Jalan Ia melanjutkan, hitungan kenaikan upah hingga 10 persen tersebut juga
berdasarkan hitungan kebutuhan hidup layak buruh yang terdiri dari 60 item.
"Setelah dikalkulasi dari 60 item muncul kenaikan rata-rata antara 7 sampai 10 persen. Dengan
demikian KSPI meminta pemerintah tetapkan UMK 2020 sebesar 7 sampai 10 persen," jelas dia.
52

