Page 55 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 1 OKTOBER 2021
P. 55

"Sebagai  pengusaha  yang  terkena  dampak  negatif  pandemi,  tuntutan  ini  memberatkan
              pengusaha," katanya.
              Bahkan, Misbakhun menambahkan, banyak pengusaha melakukan pengurangan karyawan agar
              bisa lebih ekonomis.

              "Kami ini masih berjuang bagaimana tetap eksis. Kami sudah mengurangi pengeluaran termasuk
              pengurangan karyawan agar ekonomis," ujarnya.

              Kendati begitu, ia tak menampik bahwa kebutuhan orang setiap tahun akan meningkat. Namun,
              kembali ia menyoroti bahwa kondisi saat ini bukan saat yang tepat untuk menentukan kenaikan
              upah.

              "Kecuali memang sektor industrinya lagi tumbuh. Sangat memungkinkan untuk dilakukan. Misal
              farmasi atau rumah sakit swasta," katanya.
              Takut Gelombang Ketiga Covid-19 Lebih lanjut, Misbakhun menyebut pihaknya masih dibayang-
              bayangi  ketakutan  adanya  gelombang  ketiga  Covid-19.  Artinya,  hal  itu  akan  kembali
              memperburuk kondisi ekonomi pengusaha.

              "Tahun ini bulan April dan Mei memang sudah kelihatan ada perbaikan dibandingkan tahun lalu.
              Eh tiba-tiba dihajar gelombang kedua dgn PPKM kemarin jadinya amsiong lagi. Kami juga masih
              dibayang-bayangi ketakutan akan adanya gelombang ke-3," katanya.

              Sementara itu terkait sikap buruh atau karyawan, ia berharap ada dukungan dari buruh terhadap
              perusahaannya.

              "Iya,  pastinya  menunjukkan  dukungan  ke  perusahaan.  Pastinya  karyawan  tahu  bagaimana
              kondisi keuangan perusahaannya tempat dia bekerja," tukasnya.

              Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, tuntutan
              buruh merupakan hal yang wajar dengan pertimbangan empat hal utama.
              "Pertama, tidak semua pekerja bahkan yang berada di sektor formal menerima subsidi bantuan
              upah dari pemerintah. Karena tidak semua menerima subsidi upah, maka wajar upah minimum
              yang naik menjadi social safety nett atau jaring pengaman sosial yang harusnya diperjuangkan
              oleh Negara," kata Bhima kepada Liputan6.com pada Kamis (30/9/2021).
              Kemudian  soal  pertimbangan  yang  kedua,  pemulihan  ekonomi  diperkirakan  tidak  merata
              diseluruh kelompok pendapatan.

              "Kelas pekerja akan pulih lebih lambat dibandingkan kelas atas karena sedikitnya tabungan yang
              dimiliki,  serta  tunjangan  belum  tentu  langsung  normal  dibayarkan  seperti  sebelum  pandemi
              COVID-19," papar Bhima.

              Ketiga, Bhima menyebutkan, bahwa selama ini pemerintah telah memberikan berbagai fasilitas
              bagi pengusaha seperti UU Cipta Kerja, keringanan berbagai pajak termasuk penurunan PPNBM
              kendaraan bermotor, PPh badan, dan insentif pajak lain yang sebagian besar merupakan usulan
              pengusaha.

              "Artinya,  sudah  saatnya  pemerintah  memperdulikan  masukan  dari  kelas  pekerja  untuk
              menaikkan upah minimum," ujarnya.

              Kemudian yang terakhir, disebutkan juga bahwa logika kenaikan upah minimum diterapkan di
              banyak negara pasca krisis untuk memicu naiknya permintaan agregat. Hal ini pada akhirnya
              pertumbuhan ekonomi bisa meningkat diatas proyeksi pemerintah.

                                                           54
   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60