Page 190 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 JUNI 2020
P. 190

Hal tersebut mereka lakukan karena tidak tahan dengan perlakuan yang dialami selama bekerja
              di kapal itu, yang mencakup kekerasan dan gaji yang tidak dibayar.

              Hingga  akhirnya,  kedua  ABK  tersebut  berhasil  ditemukan  dan  diselamatkan  oleh  nelayan
              Indonesia.

              Banyaknya kerumitan pada proses birokrasi dalam penempatan kerja di sektor kelautan, kata
              Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, dan menyebabkan banyak agensi atau penyalur
              yang mengirim para ABK tidak melalui prosedur atau tanpa kelengkapan dokumen.

              Selama ini, prosedur dalam mendapatkan izin tidak hanya melalui Kementerian Ketenagakerjaan
              dan  Badan  Perlindungan  Pekerja  Migran  Indonesia  (BP2MI),  tetapi  juga  harus  melalui
              Kementerian Perhubungan. Hal ini terkait dengan penerbitan buku pelaut.

              Selain itu, Wahyu juga mengatakan bahwa penyebab lainnya adalah dikarenakan ketidaksiapan
              pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia di sektor kemaritiman.
              Wahyu menyampaikan, "Problemnya selain birokrasi tadi juga penerbitan dokumen-dokumen
              yang asli tapi palsu. Ini sebenarnya modus dalam penempatan pekerja migran yang lain. Ini
              juga penanda bahwa human trafficking juga terjadi di dalam proses penempatan ABK ini."

              Kendati demikian, Wahyu menjelaskan bahwa pemerintah harus segera menerbitkan peraturan
              pemerintah (PP) tentang perlindungan pekerja migran di sektor kelautan sebagai amanat dari
              Undang-undang No.18 Tahun 2017.

              Menurut  Wahyu,  dengan  peraturan  tersebut,  diharapkan  dapat  menyederhanakan  proses
              pengurusan,  memperkuat  sistem  perlindungan  pada  pekerja  migran  serta  mempersiapkan
              sumber daya manusia di sektor kelautan.

              Permintaan Pemberhentian Sementara

              Koordinator  National  Destructive  Fishing  Watch  (DFW)  Indonesia,  Mohamad  Abdi  Suhufan
              meminta pemerintah menghentikan sementara (moratorium) pengiriman ABK terutama ke kapal
              China, dengan banyaknya kasus yang terjadi pada ABK Indonesia.
              Mohamad menegaskan, "Jangan ada pengiriman dulu misalnya sampai PP-nya keluar. Prosedur
              dari pemerintah yang harus dibenahi. Ini kan carut marut sekarang. Nah kita minta pemerintah
              benahi dulu kecarut marutan ini. Kalau sudah dibenahi, sudah ada aturan yang pas yang betul-
              betul melindungi awak kapal perikanan kita baru boleh dibuka lagi."

              Kebijakan moratorium ini, dinyatakan oleh Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan
              Badan  Hukum  Indonesia  Kementerian  Luar  Negeri,  Judha  Nugraha,  perlu  dibahas  antar
              kementerian/lembaga.
              Selain  dengan  kebijakan  moratorium  tersebut,  menurutnya,  perlu  juga  dilakukan  perbaikan
              terkait tata kelola penempatan, sehingga perlindungan ABK sudah mulai dilakukan sejak di hulu
              hingga ke hilir.
   185   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195