Page 75 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 JUNI 2020
P. 75

Surat  tersebut  berisi  tentang  hasil  kajian  KPK  terhadap  program  Kartu  Prakerja  beserta
              permasalahannya.

              "Kami  merekomendasikan  agar  implementasi  program  Kartu  Prakerja  dikembalikan  ke
              Kemenaker. Hal Ini juga sudah dibahas dengan Kementerian Koordinator bidang Perekonomian
              pada 28 Mei 2020," ujar dia, Kamis (18/6).

              Adapun, rekomendasi KPK mengembalikan program Kartu Prakerja kepada Kemenaker karena
              dianggap sudah memiliki infrastruktur yang memadai.

              Seperti  diketahui,  usai  membentuk  Kabinet  Indonesia  Maju,  pemerintahan  Presiden  Joko
              Widodo (Jokowi) langsung mulai bekerja merealisasikan sejumlah program kampanye, yakni
              tiga kartu sakti, yang slah satunya adalah Kartu Prakerja.

              Dalam perencanaan awal, Kartu Prakerja ini akan menyasar 2 juta orang yang belum bekerja
              serta yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Desain program ini semua digarap oleh
              Kemenaker.

              Namun, pandemi Covid-19 sedikit mengubah rencana pelaksanaan program Kartu Prakerja ini.
              Komando yang dipegang Kemenaker beralih ke Kementerian Koordinator bidang Perekonomian
              atas arahan Presiden Jokowi. Adapun, target pesertanya pun diutamakan bagi para korban PHK.
              Adapun. Alokasi anggaran program ini pun melonjak menjadi Rp 20 triliun.

              Banyak  persoalan    Sebelumnya,  Wakil  Ketua  KPK  Alexnder  Marwata  menyebut  ada  tujuh
              permasalahan yang menaungi pelaksanaan program Kartu Prakerja ini.

              Pertama    ,  data  PHK  yang  dirilis  Kemenaker  bersama  Badan  Penyelenggara  Jaminan  Sosial
              (BPJS)  Ketenagakerjaan  ada  1,7  juta  pekerja  yang  dirumahkan  dan  di-PHK.  Namun,  yang
              terdaftar program Kartu Prakerja secara daring sekitar 143.000 orang.

              Kedua  , ada anggaran yang tidak efisien sebesar Rp 30,8 miliar untuk fitur  face recognition
              untuk  pengenalan  peserta  program  Kartu  Prakerja.  Pasalnya,  penggunaan  Nomor  Induk
              Kependudukan (NIK0 dan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dianggap sudah memadai.

              Ketiga  , masalah yang sudah disorot dan sudah diduga sebelumnya, yakni keterlibatan delapan
              perusahaan platform digital tidak melalui mekanisme pengadaan barang dan jasa pemerintah.
              Adapun, KPK menemukan lima dari delapan perusahaan ini punya konflik kepentingan dengan
              lembaga penyedia pelatihan.

              KPK  menilai  pelatihan  daring  dalam  program  ini  dianggap  tak  memenuhi  kompetensi  yang
              memedai. Dari total 1.895 pelatihan, hanya 13% yang memenuhi syarat dari sisi materi dan
              penyampaian secara daring.

              Keempat,  materi pelatihan tidak berbayar. Kajian KPK menyebut dari 1.895 materi pelatihan
              daring ini ternyata 89% tersedia di internet, termasuk di laman prakerja.go.id  KPK berpendapat
              pelatihan daring berpotensi fiktif dan tidak efektif sehingga merugikan keuangan Negara karena
              program pelatihan seperti ini bersifat satu arah dan tidak ada pengawasan..
   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80